
Ayah kami adalah petani miskin. Sehingga di usia muda, saya selalu rindu mencari pekerjaan dan mendapatkan gaji. Pada musim gugur para petani di daerah kami memotong rumput, mengeringkan dan akhirnya menyimpannya di gudang. Ini menjadi makanan sapi pada musim dingin.
Pekerjaan pertama saya adalah menolong petani mengumpulkan rumput kering. Saya dijanjikan gaji per jam kerja. Saya bekerja keras selama beberapa hari dan memasukkan semua rumput kering ke gudang. Setelah petani menghitung jam kerja saya dan menentukan gaji, dia memanggil saya dan berkata, “Terimakasih atas pertolongan adik. Inilah gaji yang saya janjikan.”
Perhatikan dengan baik! Ia memakai kata “gaji”. Bagaimana jika ia berkata, “Inilah hadiah yang saya janjikan?” Pasti saya akan jengkel. Gaji adalah sesuatu yang diraih dengan keringat dan menjadi hak saya. Hadiah bukan hak. Hadiah merupakan rahmat, anugerah. Pertanyaannya ialah, “Apakah rahmat dapat diraih dengan keringat?”
Dalam bukunya, Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab menulis: Karena itu, rahmat yang dikandung oleh kata rahim adalah rahmat ukhrawi (masa akhirat) yang akan diraih oleh yang taat dan bertakwa kepada-Nya. (Hal. 45).
Menurut pengertian, kemurahan dan kesayangan bukan sesuatu yang diraih dengan keringat kita. Jika diraih karena keringat kita, bukan kemurahan lagi. Kita dapat menuntutnya dan berhak menerimanya. Sama seperti di atas, dalam dunia bisnis disebut dengan istilah “gaji.” Demikian pada saat kita meraih sesuatu, yang diraih tidak dapat lagi disebut karena kemurahan dan kesayangan.
Injil memuat ayat yang dapat menolong kita: “Tetapi kalau hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia (Injil, Surat Roma 11:6). Ayat lain berbunyi, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: Jangan ada orang yang memegahkan diri” (Injil, Surat Efesus 2:8-9).
Apabila keselamatan berdasarkan rahmat dan anugerah saja, orang tidak akan dapat bermegah!
Sayangnya, banyak orang beragama seumur hidupnya dengan letih-lesu menjalankan semua syariat agama. Mereka sungguh mengorbankan diri dengan disiplin yang luar biasa. Namun ia hidup tanpa keyakinan akan keselamatan.
Bila ditanya tentang kepastian masuk sorga, paling dia akan menjawab, “Mudah-mudahan!” Ini akibat keselamatan yang didasarkan pada “taat dan bertakwa”. Bila seseorang sungguh percaya bahwa Allah Maha Pemurah (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang ia akan menerima rahmat keselamatan yang ditawarkan Isa Al-Masih. Seseorang tidak perlu bekerja untuk menerima keselamatan ini. Ia hanya perlu menerima Isa Al-Masih sebagai Penyelamat-Nya.
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.
Comments
Apakah anda pikir ibadah itu beban? Bukankah Allah tidak membebani hamba-Nya, kecuali menurut kesanggupan.
Umat Kristen tidak menganggap ibadah itu sebagai beban karena mereka tidak terikat pada tata cara beribadah. Penyembahan kepada Allah tidak harus dilakukan dengan gerakan tubuh yang harus dan wajib, pada waktu dan tempat tertentu.
Ibadah yang betul adalah fokus pada meluapnya isi hati pada Allah. Ibadah yang dikenan Allah haruslah disertai hati yang rindu akan kehadiran Allah. Karena hanya Allah saja yang dapat memuaskan hati manisia. Tanpa Allah jiwa manusia seperti rusa yang mati di tengah sungai yang tidak berair.
~
SL
RSS feed for comments to this post