
Seorang penafsir Al-Quran apabila menulis mengenai “Ar-Rahman ar-Rahim” mengatakan “Yang Maha Pengasih tidak merasa kepedihan”. Lagi, “Kepedihan yang dialami oleh si pemberi merupakan kelemahan mahluk”.
Alkitab tidak menggambarkan Allah SWT demikian. Allah dalam diri-Nya selalu penuh dengan sukacita yang tak terhingga. Namun, Ia begitu prihatin dengan manusia sehingga Ia mengalami kesedihan karena perilaku mereka. Dalam Kitab Nabi-Nabi kita membaca “Tuhan tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran (umat-Nya)” (Kitab Hakim-hakim 10:16). Juruselamat yang dijanjikan menurut Kitab Nabi Besar Yesaya 53:3 “menderita kesakitan”.
Sebelum Isa Al-Masih membangkitkan Lazarus, masygullahlah hati-Nya. Ia menangis. Isa merasa kepedihan melihat kesedihan saudara-saudara Lazarus (Injil, Rasul Besar Yohanes 11:33-35). Ia juga menangis ketika memikirkan nasib Yerusalem (Injil, Rasul Lukas 19:41-44).
Demikianlah Allah mempunyai emosi. Ia mengalami kepedihan. Ia bukan seperti batu! Kita melihat hati Allah dengan jelas ketika kita menyelidiki hati Kalimat Allah sebagaimana diceriterakan dalam Injil.
Rahmat Allah bukan “dingin”. Ia tidak acuh-tak-acuh mengenai nasib kita. Ia ikut merasakan beban kita. Dia mempunyai belas-kasihan bagi kita. Belas-kasih-Nya dapat kita mengerti, bila kita merenungkan kerelaan Allah SWT menyerahkan Kalimat Allah menjadi Penebus kita.
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.