
Iyyaka na’budu adalah permulaan ayat kelima Al-Fatihah. Redaksinya ialah “Hanya kepada-Mu kami mengabdi”. Jelas ucapan ini melarang seseorang mengabdi kepada berhala.
Problema penyembahan berhala telah mendalam di hati manusia sejak dahulu. Manusia agamawi ingin menyembah atau percaya pada sesuatu yang dilihat. Misalnya, orang Arab pada masa Jahiliah menyembah benda-benda di langit, binatang, matahari, bulan, dan planet Mars. Orang Persia menyembah gelap dan terang. Masyarakat Sudan pernah menyembah binatang seperti ular.
Namun ayat di atas mengecam semua penyembahan itu. Hanya Rabb al-‘alamin layak disembah!
Kita berfikir telah bebas dari berhala. Kenyataannya, masih ada orang Kristen menganggap Alkitab sakti. Mereka mengambil Alkitab dan menaruh di bawah bantal, dengan harapan agar penyakitnya sembuh.
Juga masih ada orang Islam menulis ayat Al-Quran pada kertas. Kemudian tulisan tersebut dibungkus dan digantung pada leher atau pergelangan tangan sebagai jimat.
Tanpa disadari, orang-orang tersebut telah menyembah kitab sucinya dan menganggap ada sesuatu yang sakti pada ayatnya. Mereka telah “mengabdi” pada kitab sucinya.
Isa Al-Masih pernah menekankan, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 5:39).
Kitab Suci agama apapun tidak dapat menyelamatkan. Satu-satu-Nya yang dapat menyelamatkan ialah Isa Al-Masih.
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.