
Banyak orang tua memilih nama dari Kitab Suci karena nama-nama di sana penuh makna. Seperti Maryam, yang berarti “wanita mulia.”
Dalam hal ini ada berbagai nama untuk menyebutkan surah utama dalam Al-Quran. Yaitu dari Surah Al-Fatihah. Semua ini menyatakan keunggulannya.
Mari kita lihat apa saja nama surah utama dalam Al-Quran. Dan bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuk selamat Allah melaluinya.
Pemberian Nama di Indonesia
Ada banyak nama khas indonesia. Misalnya untuk wanita nama Siti dan Sri. Dan untuk pria, nama: Ismail, Slamet, Mulyadi, Bambang, Udin.
Selain itu ada banyak juga nama orang yang terkait dengan daerah tertentu. Misalnya, La Ode (pria) dan Wa Ode (wanita). Nama-nama ini khas dari daerah bekas Kesultanan Buton dan Kerajaan Muna.
Begitu juga dengan nama Agam, Teuku, yang merupakan khas Aceh. Atau Bagas, Bayu, Wijaya, Dharma, yang merupakan nama khas Jawa.
Orang Indonesia memilih nama anak dengan mempertimbangkan banyak aspek. Mulai dari makna spiritual hingga tren modern. Contoh pertimbangannya adalah:
- Orang Indonesia percaya nama adalah doa. Sehingga nama anak mengandung harapan, kebajikan, atau sifat yang diinginkan orang tua.
- Masyarakat kita juga sangat dipengaruhi agama dan budaya. Sehingga nama mencerminkan latar belakang budaya dan identitas anak.
Semua hal ini menyatakan pentingnya sebuah nama. Menyatakan harapan orang tua bagi kehidupan anak di kemudian hari.
6 Nama Surah Utama dalam Al-Quran
Dalam hal ini ada satu surah yang memiliki banyak nama. Semua menyatakan keistimewaan nya. Yaitu Surah Al-Fatihah.
Arti Al-Fatihah adalah “Pembukaan.” Karena merupakan surah pertama dalam Al-Quran. Terdiri dari 7 ayat, 29 kata atau 139 huruf. Surah ini merupakan pintu masuk dari seluruh Al-Quran.
Berikut adalah beberapa sebutan lain dari surah utama dalam Al-Quran.
- Fatihatul Kitab (Pembuka Kitab).
Menegaskan perannya sebagai pembuka Al-Quran.
- Ummul Kitab (Induk Kitab).
Menggambarkan bahwa surah ini mengandung pokok-pokok ajaran Al-Quran. Menjadikannya induk dari segala sesuatu yang ada dalam Al-Quran.
As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang diulang).
Merujuk pada tujuh ayatnya yang sering diulang-ulang dalam salat.
- Asy-Syifa’ (Obat).
Merujuk pada manfaat surah sebagai obat atau penawar penyakit.
- Al-Kafiyah (Yang Mencukupi).
Karena surah ini dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan seseorang dalam ibadah.
- Asy-Syukru (Syukur).
Kandungan surah ini mencakup bentuk syukur kepada Allah.
Nama memang menyatakan keunggulan. Dari nama-nama ini jelaslah Surah Al-Fatihah adalah surah utama dalam Al-Quran.
Setiap Mukmin wajib mengucapkannya berulang-ulang setiap hari. Bacaan surat ini selalu terbawa dalam shalat. “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah” (Shahih Muslim 595).
Sehingga Al-Fatihah adalah doa yang paling banyak terucap di seluruh dunia. Jika kurang lebih terdapat 1,4 milyar orang Muslim. Dan setiap orang membaca 17 kali dalam sehari. Maka doa ini terucap hampir 24 milyar kali setiap hari!
Isi Surah Utama dalam Al-Quran
Jika sedemikian penting, mari kita lihat isinya. Inilah doa dan petunjuk dari surah utama dalam Al-Quran.
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai hari pembalasan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah
dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka,
bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Qs 1:1-7)
Makna Surah Utama dalam Al-Quran
Ayat-ayat di atas, memberikan kita gambaran. Berikut ini adalah makna surah utama dalam Al-Quran secara ringkas.
- Berisi Pujian kepada Allah.
Isi surah utama dalam Al-Quran, adalah memuji sifat-sifat Allah. Bahwa Dia adalah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sehingga kita perlu beribadah dan menyembah-Nya. - Berisi harapan untuk selamat.
Makna selanjutnya adalah harapan agar Allah menyatakan jalan lurus-Nya. Karena walau Ia Maha Pemurah, Ia juga yang Maha Pembalas. Allah akan menghukum setiap dosa.
“Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya” (Qs 14:51).
Hal inilah yang menjadi kecemasan banyak orang. Apakah kita akan mampu mendapatkan jalan lurus-Nya?
Setiap Manusia Memiliki Banyak Dosa
Isi surah utama dalam Al-Quran menyatakan kerinduan manusia untuk selamat. Namun hal ini terasa sangat sulit bahkan mustahil.
Karena setiap manusia pasti berbuat dosa. Tidak ada yang mampu hidup sempurna. “Semua anak cucu Adam (manusia) banyak salah . . .” (Jami’ At-Tirmidzi 2423).
Kita bisa saja melakukan taubat. Kita juga bisa berusaha untuk beramal dan beribadah. Namun tetap saja akan khilaf dan berdosa lagi di kemudian hari.

Jalan Berkabut Manusia Berdosa
Kehidupan manusia seumpama seorang pengelana tersesat di hutan pegunungan. Jalannya tidak rata, penuh tanjakan, turunan dan juga jalan berbatu-batu. Sangatlah sulit untuk menemukan jalan pulang.
Pada satu titik sepertinya ia menemukan harapan. Ada puncak bukit yang tinggi. Ia bisa melihat kejauhan dari tempat tersebut. Ia seolah menemukan petunjuk jalan yang benar.
Namun saat menjalaninya, ada kabut tebal menutupi jalan. Sulit mendapatkan pandangan yang jernih. Akhirnya ia malah tersesat lebih jauh di hutan.
Dalam kondisi sangat frustrasi, ia hampir menyerah. Namun saat itulah ia bertemu dengan pemandu hutan. Ia menggandeng tangan sang pengelana. Kemudian membimbingnya kembali ke jalan lurus, menembus kabut.
Pertolongan Allah Menunjukkan Jalan Lurus
Demikianlah manusia berdosa tidak mampu mendapatkan jalan selamat. Semua dosa kita malah menjadi seperti kabut yang menutup mata. Menyesatkan kita lebih jauh.
Namun Allah Maha Penyayang. Ia mau manusia selamat. Karena itu Ia memberikan pemandu untuk menunjukan jalan yang lurus.
Dalam hal ini ada satu nama yang penting. Yaitu yang melalui-Nya manusia berdosa mendapat keselamatan.
“Ia [Maryam] akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau harus menamai-Nya Isa karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka . . . Orang akan menyebut-Nya Immanuel, yang artinya, ‘Allah beserta kita’” (Matius 1:21-23).
Rupanya Isa Al-Masih adalah Sang Pemandu dari Allah. Isa adalah jelmaan Allah dalam wujud manusia.
Tujuannya untuk mengajarkan jalan kebenaran Allah. Isa kemudiaan mati di kayu salib. Ia menjadi penebusan dosa manusia.
Melalui Isa, Allah mengampuni dosa. Ia juga memandu dalam jalan lurus agar kita masuk surga.
Solusi Allah Menjawab Surah Utama dalam Al-Quran
Surah utama dalam Al-Quran menyatakan kerinduan manusia untuk selamat. Namun karena dosa, mustahil kita memperolehnya.
Allah menyediakan solusi-Nya. Melalui Isa Al-Masih, ada pengampunan dosa dan panduan selamat sampai masuk surga.
“Yaitu pembenaran dari Allah berdasarkan iman kepada Isa Al-Masih . . . Sebab semua orang telah berdosa dan tidak dapat mencapai kemuliaan Allah. Tetapi, karena anugerah-Nya, mereka dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan di dalam Isa Al-Masih” (Injil, Surat Rum 3:22-24).

Mari mendapatkan jawaban doa dari Al-Fatihah. Yaitu panduan jalan lurus Allah untuk selamat. Mari mengimani Isa Al-Masih.
“Aku [Isa Al-Masih] memberikan hidup kekal kepada mereka dan mereka tidak akan binasa sampai selama-lamanya . . .” (Injil, Yohanes 10:28 KSI).
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Hukum Mahabbah dalam Islam di Surat Al-Fatihah dan Kitab Allah
- Mukmin Wajib Tahu! Ini Arti Kalimat Allah
- 4 Kelebihan Utama Al-Fatihah
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Isi surah utama dalam Al-Quran menyatakan kerinduan manusia untuk selamat. Menurut Saudara, mampukah manusia berdosa mendapatkannya?
- Bagaimana pendapat Saudara bahwa dosa manusia menjadi kabut jalan yang malah menyesatkan kita dari menemukan jalan lurus?
- Allah Maha Penyayang menjadi Juruselamat, melalui Isa, untuk memandu manusia tersesat. Bagaimana pendapat Saudara mengenai hal ini?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, maaf bila terpaksa kami hapus.

As-Sab’ul Matsani (Tujuh Ayat yang diulang).
*
Kalau Allah tidak Maha Pemurah dan Maha Penyayang tentunya kita semua, yang tidak percaya Allah saja akan dimusnahkan dari muka bumi ini.
Silakan membaca kisah para nabi dan pengikutnya. Nabi Musa – kehancuran Firaun; Nabi Nuh- banjir bah; Nabi Luth-Sodom dibakar dan lain lain.
Apakah anda pikir Allah saat itu kejam? Tolong dijawab!
Salam Sejahtera!
~
Allah tidak pernah bermaksud agar manusia ditimpa bencana. Allah ingin agar manusia hidup dalam keadaan damai di bumi dan di akhirat. Kalau pun Allah melakukan pada jaman nabi-nabi seperti yang dicontohkan, sebenarnya Dia turun tangan untuk melenyapkan kejahatan.
Melalui kisah para nabi itu, Allah memberikan suatu berita peringatan agar disampaikan di seluruh dunia bahwa Allah menghendaki supaya semua orang dapat diselamatkan.
“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan…” (Injil, Surat 1 Timotius 2:3-4).
Kehendak Allah ini diwujudkan melalui kedatangan Kalimat Allah ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dari hukuman dosa. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:17).
~
SL
*
Sifat manusia pada dasarnya sombong. Kalau kita merasa dalam zona nyaman. Kita sering melupakan-Nya.
Jikalau kita tertimpa bencana, Allah pasti punya maksud tertentu. Kita di uji untuk menjadi manusia yang tangguh.
Salah satu contoh. Kita dibesarkan dengan sekolah yang begitu menyebalkan. Namun di balik itu kita merasakan sesuatu yang lebih baik. Kalau kita sejak kecil tidak pernah sekolah, pasti beda.
~
Alkitab mengajarkan bahwa Allah menghendaki orang Kristen menjadi ‘anak anak-Nya‘ yang tangguh terhadap setiap ajaran berupa kesusahan dan penderitaan, bukan menjadi “anak-anak gampang”.
“Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang” (Injil, Surat Ibrani 12:8).
Bagi Allah, memberi ganjaran atas kesalahan atau dosa yang dilakukan anak-anak-Nya, bukanlah bentuk kekejaman tetapi justru bentuk kebijaksanaan dalam pendidikan, “…karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak”( Injil, Surat Ibrani 12:6).
Kasih sayang harus dinyatakan, tetapi tidak kalah penting juga memberi penilaian dan ganjaran ketika melakukan kesalahan supaya orang mengenal kebenaran.
~
SL
~
Saudara Yestoya,
Kami berterimakasih atas kesediaan saudara mengunjungi situs kami, dan juga memberikan komentar. Namun maaf, dengan terpaksa kami harus menghapus komentar-komentar saudara yang tidak sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan.
Bila saudara ingin memberi komentar, silakan memberi komentar yang sesuai dengan topik di atas. Kami juga mohon dengan hormat agar saudara tidak memberikan komentar yang bersifat menghina atau melecehkan agama lain.
Demikian harap makhlum adanya.
~
Slamet
~
Lantas dimana eksistesi umat yang ada di dunia ketika Yesus belum lahir ke dunia. Kasihan mereka, tidak ada yang menyelamatkan. Tuhan anda bukan tuhan yang adil. Islam adalah jalan bagi semua agama.
~
Saudara Widodo,
Sebelum kedatangan Yesus ke dunia, dasar dari keselamatan adalah iman. Dalam Injil, Surat Ibrani banyak dicatat bagaimana hamba-hamba Tuhan di zaman para nabi diselamatkan karena iman.
Bila Sdr. Widodo membaca dalam Kitab Nabi-nabi, saudara dapat melihat bagaimana Allah turun tangan melenyapkan kejahatan. Lewat air bah, contohnya.
Namun karena Allah Maha Kasih dan juga sangat adil, maka Dia mengambil inisiatif agar Pribadi Allah Kedua, yaitu Kalimatullah berinkarnasi ke dunia. Tujuannya, agar Dia dapat menyelamatkan manusia dari kematian kekal di neraka. Hal ini tentu juga berlaku bagi Sdr. Widodo.
Itulah yang disebut dalam Kitab Suci Allah, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:17).
~
Saodah
~
To admin…
Rukun Iman yang ke 3 bagi umat Muslim adalah “Iman kepada Kitab-Kitab Allah”. Kenapa disebut dengan kitab-kitab? Karena ada lebih dari satu kitab Allah yang harus dipercaya. Ada 4 kitab suci Allah yang wajib diimani oleh umat Islam yaitu: Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran.
Kitab adalah kalam suci Allah yang diturunkan kepada nabi dan rasulnya untuk membimbing manusia/umat nabi dan rasul tersebut ke jalan yang benar.
Jadi kita harus mengetahui isi kitab-kitab tersebut “tidak hanya kata-kata pembukaannya saja”.
~
Saudara Guns,
Kami sependapat bahwa kita harus mengetahui isi Kitab-kitab tersebut. Pertanyaannya, sudahkah sdr membaca, mengerti, serta melakukan isi Kitab-kitab tersebut?
Dan bagaimana Allah membuktikan diri sebagai yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang?
~
Daniar
~
Saya tekankan sekali lagi. Tuhan tidak menyampaikan wahyu bukan berupa kitab seperti yang ada diimajinasi kebanyakan orang. Wahyu itu dihimpun di dalam dada para penerima wahyu, tidak terbatas angka dan nalar, terima kasih.
~
Saudara Syamsul Bahri,
Memang benar wahyu Allah bukan berupa kitab. Tetapi Allah mendikte/memimpin orang-orang yang dipilih-Nya yang membukukan wahyu-Nya.
Menurut saudara, mengapa ayat pembuka Al-Quran merupakan doa yang harus diulang-ulang?
~
Daniar