
Namun manusia penuh dengan khilaf dan dosa. Mustahil kita hidup sempurna.
Ada satu ungkapan kuno yang berasal dari orang yang rindu untuk taqwa. Ia menyatakan bagaimana frustasinya berusaha hidup benar.
“Masakan manusia benar di hadapan Allah? Masakan orang yang dilahirkan perempuan itu suci?”
Bagaimana cara menjadi orang bertaqwa? Dapatkah manusia yang penuh dosa hidup benar dan masuk surga? Mari kita simak pembahasannya.
Ketaqwaan Sangat Penting dalam Agama
Taqwa berarti menjaga diri, memelihara, dan menjauhi segala hal yang buruk. Yaitu yang menyebabkan murka Allah atau siksa di akhirat.
Kata taqwa berasal dari kata “waqa-yaqi-wiqayah” dalam bahasa Arab. Kata waqa memiliki makna melindungi dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan.
Menurut ajaran Islam inti taqwa adalah ketaatan kepada Allah. Cara menjadi orang bertaqwa dengan menghindari dosa dan menjalankan perintah-Nya.
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)” (Qs 22:1).
Karena itu ketaqwaan saat ditekankan dalam agama. Supaya umat terdorong melakukan seluruh perintah Allah.
Namun kenyataannya kita pasti penuh kelemahan. Ada saat kita taqwa. Namun seringkali kita gagal.
Mari kita lihat berbagai saran agama untuk meningkatkan ketaqwaan.
5 Cara Menjadi Orang Bertaqwa
Banyak orang ingin menjadi bertaqwa. Karena itu berikut ini beberapa saran cara menjadi orang bertaqwa.
- Bertaubat dari segala dosa.
Bermula dengan mau melakukan taubat jika berbuat dosa. Hal ini perlu dilanjutkan dengan niat untuk tidak mengulanginya lagi.
- Memperkuat keimanan.
Ulama mendorong cara menjadi orang bertaqwa dengan belajar agama. Agar mengetahui apa perintah dan larangan-Nya.
- Rajin menjalankan ibadah.
Selanjutnya umat perlu berusaha melakukan semua ibadah. Misalnya sholat lima waktu. Berpuasa penuh setiap tahunnya. Juga berbuat amal dan sedekah.
- Menjauhi perbuatan maksiat.
Tentu saja taqwa berarti perlu menjauhi semua dosa. Hal ini bisa berarti menjaga perkataan, tidak fitnah, tidak berbohong. Juga menjaga dari pornografi, pikiran maksiat, kebencian, amarah dan sebagainya.
- Bergaul dengan orang baik.
Lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi. Karena itu perlu mendapatkan teman-teman baik yang bisa mengingatkan dan mendukung.
Mustahil Manusia Menjadi Orang Bertaqwa!?
Memang semua saran di atas adalah hal baik. Semua ini sering kita dengar sebagai nasihat dari para ulama dan pemuka agama.
Tapi kenyataannya sangat sulit untuk kita bisa lakukan semuanya. Bahkan sebenarnya mustahil!
Karena manusia jelas adalah tempat yang penuh dosa dan salah. “Semua anak cucu Adam (manusia) banyak salah . . .” (Jami’ At-Tirmidzi 2423).
Dalam hal ini Al-Quran memberi peringatan tegas. Manusia berdosa tidak mencapai surga. “. . . Barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (Qs 2:81).
Bahkan kelemahan manusia ini tidak terkecuali Nabi Islam. Mari kita lihat kisahnya.
Nabi Islam Gagal Taqwa?
Ada beberapa kejadian yang mengisahkan bagaimana sebagai manusia, Nabi Islam juga gagal taqwa.
- Mengharamkan madu karena permintaan Istri.
Dikisahkan Nabi Islam datang ke istrinya Mariyah al-Qibthiyyah. Hal ini terjadi pada saat seharusnya giliran istri lainnya, Hafsah. Nabi Islam suka kepada Mariyah, salah satunya karena di tempatnya ada madu.
Lalu Hafsah protes kepada Nabi Islam. Beliau menjawab: “Senangkah engkau bila saya mengharamkan madu. Dengan demikian juga tidak menggaulinya lagi? Tapi tolong jangan beritahukan kepada siapapun.”
Hafsah tentu saja setuju. Namun kemudian ia memberitahukan kepada Aisyah. Kemudian Allah menegur sang nabi.
“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu [madu]; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? . . . Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad . . .” (Qs 66:1-3). - Berpaling dari orang buta.
Pada waktu yang lain tercatat peristiwa menarik. Allah menegur Nabi Islam karena ia mengacuhkan orang buta yang datang kepadanya.
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya . . . Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya . . . sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya” (Qs 80:1-10).
Nabi yang Menunjukkan Cara Menjadi Orang Bertaqwa
Nabi Islam adalah panutan umat. Jika beliau saja penuh khilaf, bagaimana kita bisa belajar taqwa?
Ada satu nabi lain yang tertulis dalam Al-Quran. Yaitu Nabi Yahya Pembabtis. Ia adalah nabi yang istimewa (Qs 19:7).
Nabi Yahya memberi petunjuk sangat penting. “. . . Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah . . .” (Qs 3:39).
Tugasnya adalah menyatakan ada Firman Allah atau Kalimatullah. Yaitu yang menjadi teladan utama umat untuk menunjukkan cara menjadi orang bertaqwa.
Kalimatullah ini adalah Isa Al-Masih. Isa lahir dari Ruh Allah. Isa adalah satu-satunya Pribadi yang Al-Quran nyatakan suci, tanpa dosa (Qs 19:19).
Allah Mengampuni Dosa dan Mengubah Hati
Rupanya ada pertolongan Allah untuk manusia hidup taqwa. Dan nantinya akan mendapat kepastian surga.
Cara Allah adalah pertama dengan mengampuni dosa. Yaitu saat kita datang kepada-Nya melalui Kalimatullah, Isa Al-Masih.
“Melalui Isa Al-Masih, Allah memberikan pengampunan dosa. Setiap orang yang mengimani-Nya dibebaskan dari segala dosa. Hal ini tidak mungkin tercapai dari berusaha memenuhi seluruh perintah Allah” (Injil, Kisah Para Rasul 13:38-39, BIS parafrasa).

Dengan bimbingan-Nya kita bisa hidup benar. Hal ini tercapai bukan sekadar dengan niat dan usaha manusia. Melainkan karena rahmat Allah.
“Kemudian, Aku akan mengaruniakan kepadamu hati yang baru serta menaruh ruh yang baru dalam batinmu. Akan Kusingkirkan hati yang keras dari tubuhmu dan Kukaruniakan kepadamu hati yang lembut” (Taurat, Yehezkiel 36:26).
Kita bisa memperoleh semua hal ini. Kita hanya perlu mengimani Kalimatullah, Isa Al-Masih. Selanjutnya kita bertekun untuk menjadi pengikut-Nya.
Cara Pasti Menjadi Orang Bertaqwa dan Mendapat Surga
Inilah cara menjadi orang bertaqwa yang sebenarnya. Bukan dengan usaha manusia saja. Melainkan dengan pertolongan rahmat Allah. Nabi Yahya sendiri menegaskan bahwa manusia selamat melalui Isa Al-Masih.
“Esoknya, Yahya melihat Isa datang kepadanya. Lalu, Yahya berkata, ‘Lihatlah, Anak Domba Allah [Isa Al-Masih] yang mengangkat dosa dunia’” (Injil, Yahya 1:29).
Maukah Anda menjadi orang yang bertaqwa dan memperoleh surga? Mari menerima rahmat Allah dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Bagaimana Jika Mukmin Tidak Mampu Menjalankan Syariat Islam?
- Pertanyaan Tentang Taqwa, Dapatkah Menjamin Masuk Surga?
- Solusi Cara Menjadi Hamba Allah yang Baik dan Bahagia
Video:
Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
1. Apakah saudara sudah merasa benar di hadapan Allah? Sebutkanlah alasan saudara!
2. Mengapa sholat dan takbir tidak dapat membuat seseorang menjadi manusia sejati di hadapan Allah?
3. Adakah cara lain agar seseorang dapat menjadi manusia sejati di hadapan Allah? Jelaskanlah jawaban saudara!
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus. Silakan mengirimkan pertanyaan Anda lewat SMS ke: 0812-9530-4930.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS ke: 0812-9530-4930


Hafsah tentu saja setuju. Namun kemudian ia memberitahukan kepada Aisyah. Kemudian Allah menegur sang nabi.
~
Sdr NL,
Benarkah ada kerendahan hati (wudhu), jika manusia tidak menyadari dirinya adalah makhluk yang telah jatuh dalam dosa?
Benarkah ada penyerahan (sholat) jika masih “dapat mengandalkan diri sendiri” melalui amal ibadah dan perbuatan baik?
Benarkah ada penyatuan diri (haji) manusia kehadapan Tuhan, jika hukum itu masih merupakan kutukan (Contoh: bagi seorang yang bukan koruptor, maka hukum/peraturan korupsi itu bukan merupakan kutukan bagi dirinya sama sekali, malah sebaliknya)?
~
Allah hanya memilih orang-orang yang pantas untuk masuk sorga-Nya.
Ada yang perlu pengajaran yang begitu lama dan dalam untuk dapat mengenal Islam. Ada yang hanya sedikit saja melihat kebenaran Islam, maka hidayah pun menjemputnya. Dan kalian termasuk orang-orang yang rugi, padahal Allah begitu banyak memperlihatkan kebesaran-Nya. Contoh kecil, lihat para Hafidz, dan mana Hafidz Bible kalian?
~
Sdr. Purnomo,
Sdr menuliskan “Allah hanya memilih orang-orang yang pantas untuk masuk sorga-Nya.” Kalau begitu, dapatkah sdr menjelaskan bagaimana caranya agar termasuk dalam bagian “orang-orang yang pantas masuk sorga” Allah itu?
Tentu tujuan akhir setiap manusia adalah masuk sorga dan bukan masuk neraka, bukan? Alangkah lebih baik ketika kita masih di dunia, kita dapat mengetahui bagaimana cara yang pasti untuk masuk sorga Allah. Karena bila kita sudah meninggal, maka kesempatan untuk memperbaiki diri sudah tidak ada lagi.
Oleh sebab itu, kiranya Sdr. Purnomo tidak keberatan untuk berbagi.
~
Saodah
~
Tentu tujuan akhir setiap manusia adalah masuk sorga dan bukan masuk neraka, bukan? Alangkah lebih baik ketika kita masih di dunia, kita dapat mengetahui bagaimana cara yang pasti untuk masuk sorga Allah. Karena bila kita sudah meninggal, maka kesempatan untuk memperbaiki diri sudah tidak ada lagi.
Dan inipun sangat berlaku bagi Anda Bpk/ibu Saodah.
~
Benar yang sdr katakan. Apa yang saya tulis di atas, dan yang kemudian sdr kutip, jelas juga berlaku bagi saya.
Saya mengucap syukur kepada Allah, sebab saya sudah mengetahui cara yang pasti untuk masuk sorga Allah. Sehingga, jika Sdr. Purnomo bertanya kepada saya, “Apakah Saodah sudah yakin masuk sorga?” Saya dengan yakin dapat menjawab “Iya, saya pasti masuk sorga!”
Mungkin sdr akan berkata saya takabur dan terlalu sombong. Saya bilang tidak! Sebab keselamatan adalah sesuatu hal yang sangat penting dan pasti. Oleh sebab itu, sdr penting untuk mengetahuinya, agar sdr pasti masuk sorga. Bukan berada dalam tahap “mudah-mudahan” atau “insyallah.”
Lalu, apakah yang membuat hingga saya dapat dengan yakin berkata “saya pasti masuk sorga”? Inilah perkataan Isa Al-Masih, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).
Pada ayat lain Isa juga berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Injil, Rasul Besar Yohanes 8:12).
Jika sudah ada yang pasti, mengapa saya harus memilih yang masih “mudah-mudahan”?
~
Saodah
~
1. Yang menilai benar dan salahkan Allah swt. Kalau kita merasa sudah benar nanti dikira kepedean.
2. Meskipun sholat dan takbir tapi tidak Islam ya tidak benar namanya.
3. Saya kutip dari hadist:
“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun dari umat ini yang pernah mendengarkan tentang aku, apakah ia seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian ia mati sebelum beriman dengan ajaran yang aku bawa, kecuali ia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu]
Kalau ingin benar sebaiknya pilihlah yang benar terlebih dahulu.
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs 5:3).
~
Saudara Rheinmetall,
Terima kasih telah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami di atas.
1. Kami setuju dengan jawaban saudara. Namun bila Allah yang menyatakan benar apakah Sdr. Rheinmetall masih merasa ragu? Jika Anda masih merasa ragu apakah sudah benar di hadapan Allah atau tidak, datanglah kepada Isa Al-Masih. Dia dapat memastikan Anda sudah benar di hadapan Allah. Karena Isa adalah “Jalan dan Kebenaran dan Hidup” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).
2. Menurut saudara tidak benar karena tidak Islam, benar begitu? Lalu bagaimana dengan saudara, apakah saudara Islam? Bukankah Sdr. Rheinmetall belum tahu benar atau tidak dihadapan Allah?
3. Adakah kaitannya kutipan Sdr. Rheinmetall dengan pertanyaan no.3?
Sdr. Rheinmetall dapat menunjukkan yang benar, anehnya mengapa saudara masih ragu atau belum tahu benar atau tidak dihadapan Allah?
Silakan direnungkan baik-baik!
~
Daniar
~
Kristen pengikut Yesus. Yesus adalah Nabi Isa As. Nabi Isa As menyembah Allah seperti umat Islam. Berarti derajat umat Islam sama dengan Nabi Isa penyembah Allah. Sedangkan umat Kristen derajatnya dibawah umat Islam karena menyembah Yesus yang menyembah Allah.
Bertobatlah bertobatlah!
Al-Quran adalah kitab penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya.
~
Saudara Nicko,
Bagaimana tanggapan saudara dengan artikel di atas? Masihkah saudara ragu atau tidak percaya apa yang ditunjukkan Nabi Yahya Pembaptis?
Menurut Sdr. Nicko selain Allah adakah yang dapat menghapus dosa manusia? Lalu siapakah Isa Al-Masih sehingga memiliki kuasa seperti Allah? Silakan direnungkan!
Mengenai kitab Sdr. Nicko yang saudara sebut kitab penyempurna. Silakan pelajari dan selidiki di sini http://tinyurl.com/7dozslb
Terima kasih
~
Daniar
~
Kristen atau Nasrani lebih dahulu daripada Islam. Tapi seberapa banyak umat Islam daripada Kristen?
~
Sdr. Hamba ALLAH,
Benar yang Anda sampaikan bahwa Kristen atau Nasrani lebih dulu ada daripada Islam. Para pengikut Isa Al-Masih ini sudah ada 600-an tahun sebelum Islam lahir. Namun, apakah besarnya jumlah pengikut suatu ajaran berhubungan dengan benar tidaknya ajaran tsb di hadapan Allah? Apakah besarnya pengikut ajaran memastikan bila Allah membenarkan mereka? Apakah banyaknya pengikut menentukan kepastian tujuan akhir ke manakah para pengikut akan menghabiskan nasib kekekalan mereka? Bagaimana menurut Anda?
~
Yuli
***
Jawabannya sederhana. Kita harus berada di jalan-Nya untuk menjadi benar di hadapan-Nya. Bukan terlihat benar di hadapan makhluk lainnya.Terkadang apa yang menurut makhluk tidak benar, tetapi lain pula menurut Tuhan.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui. Carilah urutannya seperti ini:
1. Cari sosok yang Anda yakini wakil-Nya di dunia ini.
2. Bergurulah minta diberi tahu jalannya (ilmu).
3. Kajilah kitab-Nya lewat beliau.
Terimakasih.
***
Sdr. Syamsul Bahri,
Anda benar, kita harus berada di jalan Allah untuk menjadi benar. Masalahnya, bukankah karena belenggu dosa, mata nurani kita kabur sehingga tidak tahu manakah jalan Allah?
Bila solusi yang Anda tawarkan adalah “mencari sosok yang kita yakini wakil Allah di dunia ini”, dengan dasar apa kita menemukan dan meyakininya? Bukankah mata rohani kita sudah kabur oleh dosa? Sehingga seperti apa yang Anda sampaikan, manusia tidak lagi bisa melihat kebenaran sebagaimana Allah melihatnya, bukan?
Dengan kebutaan mata rohani, bukankah seharusnya cara paling tepat adalah langsung memohon Allah menunjukkan jalan-Nya? Hal ini supaya kita tidak lagi tersesat oleh pihak-pihak yang mengaku “wakil Allah” tapi tidak mengenal siapa Allah sesungguhnya.
Itu sebabnya Allah sendiri [Isa Al-Masih] datang kepada kita dan berfirman: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup …” (Injil Yohanes 14:6a). Allah sendiri telah menyediakan diri menjadi jalan pengampunan dosa dan anugerah hidup kekal (sorga) lewat pengorbanan-Nya menanggung hukuman dosa kita. Nah, sebagai orang yang ingin dibenarkan Allah, apakah respon kita? Apakah kita bersikeras mencari jalan lain? Bukankah Allah sendirilah jalan keselamatan itu? “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku [Isa Al-Masih]” (Injil Yohanes 14:6b).
~
Yuli
*****
Jawaban:
1. Kebenaran hanya ditangan Allah. Manusia yang benar adalah manusia yang mengimani Allah yang Maha segalanya. Tidak ada Tuhan selain Allah.
2. Sholat salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah. Dan takbir adalah salah satu rukun yang ada di dalam sholat. Lalu apa yang salah dengan sholat. Apakah anda mengerti hakekat sholat.
3. Caranya adalah Iman, Islam dan Ihsan. Apakah anda memahami hakekat 3 kata tersebut? Semuanya ada dalam Al-Quran.
Itulah jawaban saya mudah-mudahan penulis artikel ini memahami hakekat Allah itu sendiri dari berbagai versi, tanpa menyudutkan versi umat Muslim dan memaksakan keimanannya.
~
Saudara Guns,
Terima kasih telah menanggapi pertanyaan topik di atas.
1. Lalu bagaimana dengan amal, ibadah, dan pahala dapatkah membenarkan seseorang di hadapan Allah? Mengapa?
2. Kami tidak mengatakan bahwa sholat salah. Pertanyaannya apakah alasan umat Muslim selalu berdoa “tunjukilah kami jalan lurus”?
3. Dalam beberapa komentar di artikel lain saudara sering menjawab dengan tiga hal itu (iman, islam, ihsan), tapi tidak pernah menjawab bila diminta penjelasannya. Silakan dijelaskan mengapa ketiga hal itu menurut saudara adalah cara agar saudara dibenarkan Allah?
~
Daniar
~
Ketika anda menanyakan apakah alasan umat Muslim selalu berdoa “tunjukilah kami jalan lurus”? Jawabannya bisa ditemukan dari pernyataan saudara
“Bukankah mata rohani kita sudah kabur oleh dosa? Sehingga seperti apa yang Anda sampaikan, manusia tidak lagi bisa melihat kebenaran sebagaimana Allah melihatnya, bukan?
Dengan kebutaan mata rohani, bukankah seharusnya cara paling tepat adalah langsung memohon Allah menunjukkan jalan-Nya?”
Terimakasih
~
Saudara Angga,
Terima kasih saudara telah memberi respon atas pertanyaan kami. Kami setuju dengan tanggapan saudara. Dengan kebutaan mata rohani, cara paling tepat adalah langsung memohon Allah menunjukkan jalan-Nya. Pertanyaannya, sudahkah saudara mengetahui dan menerima jalan-Nya tersebut?
Mari kita perhatikan pernyataan Isa Al-Masih ini: “Kata Yesus [Isa Al-Masih] kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa [di sorga], kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6). Isa Al-Masih menyatakan bahwa Dia adalah Jalan dan Sumber Kehidupan. Dia berkuasa menjamin kehidupan kekal manusia yang beriman kepada-Nya.
Puji syukur Allah telah menunjukan jalan-Nya, bukan?
~
Daniar