
Pada pihak lain ada anak pesantren yang dikucilkan guru dan teman-temannya. Alasannya karena ia terlalu banyak bertanya tentang agama.
Apakah ada ruang untuk kritik terhadap agama Islam? Mempertanyakan agama adalah hal baik atau terlarang?
Mari kita simak pandangan agama mengenai kritik terhadap Islam. Agar kita bisa bijaksana dan memahami jalan Allah bagi manusia.
Respon Tegas: Kritik Terhadap Islam
Ada banyak kasus pelaporan penistaan agama. Beberapa memang ada unsur jelas kebencian dan penghinaan. Namun banyak juga yang sebenarnya hanya berupa pertanyaan.
Ada seorang “influencer” Sosial Media yang beragama Islam. Suatu saat ia menyatakan pertanyaannya:
“Mengapa agama Islam identik dengan budaya Arab? Allah seharusnya adalah Allah semua bangsa. Dia yang menciptakan semuanya. Sehingga kita tidak perlu identik dengan budaya Arab.”
Dalam waktu singkat ia mendapat banyak hujatan di Sosial Media. Ia bahkan dilaporkan ke polisi oleh berbagai pihak.
Selain itu dahulu pernah ada kasus yang lain. Seorang penulis media dijebloskan ke penjara.
Alasannya karena ia membuat survey tokoh populer dalam sejarah. Dalam hasilnya mencantumkan Nabi Islam di urutan ke-sebelas.
Hal ini dianggap penghinaan karena menurunkan derajat sang nabi. Dengan cara memasukkannya dalam pertanyaan tokoh populer.
Dari beberapa contoh ini kita melihat tindakan yang sangat keras. Yaitu umat dalam meresponi kritik terhadap Islam. Bagaimana sebenarnya ajaran agama mengenai hal ini?
Kritik Terhadap Islam: Pandangan Agama

Namun ada batasan yang jelas. Pertanyaan itu hanya untuk pelajaran umum saja. Tapi bukan untuk pertanyaan mengenai Nabi Islam, Al-Quran maupun ajaran Islam.
Seorang teman pernah bertanya kepada ulama mengenai hal ini. Ia sangat resah karena melihat agamanya sangat sensitif. Seringkali merespon keras jika mendapat kritik terhadap Islam.
Jawaban yang ia terima adalah karena agama Islam sudah sempurna (Qs 5:3). Sehingga adalah kesalahan untuk mempertanyakannya.
Kemudian ia mencoba berdiskusi lebih lanjut. Ia berkata bahwa banyak orang bertanya bukan karena ingin menghina. Melainkan karena rindu memahami lebih dalam. Akhirnya ulama menjawab dengan memberikan berbagai dalil.
Kritik Terhadap Islam: Dalil Agama
Secara ringkas ulama memberi peringatan untuk umat tidak boleh memiliki keraguan. Ada peringatan jangan meragukan agama.
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Qs 2:147).
Alasannya karena orang yang ragu dan banyak bertanya bisa mendapat celaka. Malah cenderung mudah murtad.
“. . . Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu mendapat celaka karena mereka banyak tanya dan suka mendebat para Nabi mereka. karena itu, bila kuperintahkan mengerjakan sesuatu, laksanakanlah sebisa-bisanya, dan apabila kularang kalian mengerjakan sesuatu, maka hentikanlah segera” (Shahih Muslim 2380).
Bahkan ada dalil hukuman berat. Yaitu bagi umat yang membantah dan melakukan kritik terhadap Islam.
“Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? . . . ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api . . .” (Qs 40:69-76).
Semua jawaban ulama ini sangat menggelisahkan hati teman saya. Karena ia memang melihat ada dasar untuk tidak melakukan kritik terhadap Islam.
Allah Menerima Pertanyaan dan Kritik

Tomas adalah salah satu murid Isa Al-Masih. Ia ragu bahkan tidak percaya Isa bangkit dari kematian. Padahal banyak teman lainnya telah menyaksikan hal tersebut.
Menariknya saat Isa Al-Masih datang, ia tidak menegur Tomas. Ia malah menerima dan menolongnya.
“. . . Ia [Isa Al-Masih] bersabda, ‘Damai bagimu!’ Setelah itu, Ia bersabda kepada Tomas, ‘Ulurkanlah jarimu kemari dan lihatlah tangan-Ku. Ulurkanlah juga tanganmu dan cucukkanlah ke lambung-Ku. Jangan tidak percaya, tetapi percayalah!’ Jawab Tomas kepada-Nya, ‘Ya Junjunganku, ya Tuhanku.’” (Injil, Yahya 20:26-28).
Memang teman saya tidak mengerti perihal kebangkitan Isa Al-Masih. Namun ia sangat tertarik dengan respon-Nya. Karena Dia tidak menghukum Tomas yang bertanya. Melainkan malah menolong dalam keraguannya.
Allah Memahami Kelemahan Manusia
Akhirnya teman saya bertemu dengan saya. Kami berdiskusi lama mengenai banyak hal.
Salah satu topik adalah ia ingin tahu pandangan saya. Apakah dalam ajaran Nasrani umat boleh melontarkan pertanyaan dan kritik terhadap agama.
Saya jelaskan bahwa pertanyaan dan kritik adalah bagian dari hidup manusia. Juga bagian dari cara kita memproses informasi.
Tentu saja adalah bijak bertanya dengan sikap hormat. Namun tentu orang boleh melakukannya.
Dalam ajaran Isa Al-Masih, orang boleh bertanya. Dalam Kitab Injil, malah banyak yang sering berdiskusi dengan Isa Al-Masih.
Pernah satu saat terjadi diskusi hangat. Banyak ahli agama bersoal jawab dengan Isa Al-Masih. Dan Isa meresponi semua pertanyaan dengan bijak.
“Salah seorang ahli Kitab Suci Taurat datang kepada Isa karena ia mendengar bahwa Isa bersoal jawab dengan orang-orang dari mazhab Saduki . . . Ia bertanya kepada Isa, ‘Perintah manakah yang terutama?’ Sabda Isa kepadanya, ‘Perintah yang terutama ialah, . . . Kasihilah Allah, Tuhanmu, dengan segenap hatimu, . . . Sedangkan perintah yang kedua, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’” (Injil, Markus 12:28-31).
Dari hal ini kita belajar bahwa Allah menerima manusia. Ia memahami kelemahan dan pertanyaan hati kita.
Allah Menyelamatkan Manusia.
Lebih dalam lagi, alasan Allah menerima kegelisahan kita adalah karena Ia Penyelamat. Allah mau menyelamatkan manusia. Agar kita bisa paham dan mendapatkan jalan lurus-Nya.
Ini juga adalah alasan mengapa Allah menjelma menjadi manusia. Ia melakukannya melalui Isa Al-Masih, Kalimatullah (Firman Allah), dalam wujud manusia.
Isa datang untuk menyatakan keselamatan Allah. “Karena Anak Manusia [Isa Al-Masih] datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Injil, Lukas 19:10).
Isa Al-Masih mengajarkan kebenaran Allah. Kemudian Dia berkorban di kayu salib untuk menebus manusia dari dosa.
Melalui Isa kita akan memperoleh pengampunan dosa. Juga melalui-Nya kita mendapat bimbingan jalan lurus ke surga.
Kita mendapatkannya dengan cara mengimani dan menjadi pengikut Isa. Maka Allah pasti akan menyelamatkan kita.
Karena itu dalam ajaran Nasrani, umat boleh bertanya. Karena hal ini adalah bagian dari proses belajar manusia dalam mendapat jalan lurus-Nya.
Beribadah dan Belajar Tanpa Rasa Takut

Namun ia menghargai pandangan dan penjelasan saya. Ia mengakui respon keras kritik terhadap Islam memang selama ini membuatnya resah. Saya memberikan dia ruang untuk berpikir dan memahami.
Bagaimana dengan para saudara pembaca? Maukah Anda beribadah dengan pemahaman dan tanpa ketakutan? Terlebih lagi kita akan mendapatkan ampunan dosa dan jaminan surga.
“Melalui Isa Al-Masih, Allah memberikan pengampunan dosa dan surga. Setiap orang yang mengimani-Nya dibebaskan dari segala dosa. Hal ini tidak mungkin tercapai dari usaha dan pemahaman kita sendiri” (Injil, Kisah Para Rasul 13:38-39, BIS parafrasa).
Kami mendorong Anda untuk belajar dan bertanya. Mari belajar menjadi pengikut Isa Al-Masih, agar memperoleh jalan selamat Allah.
Beberapa Pertanyaan Untuk Komentar:
Staff IDI mengharapkan komentar dari para pembaca. Kiranya komentar yang diberikan hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Dalam setiap diskusi, orang Islam sering memberi kritik kepada ajaran non-Islam, tetapi mengapa orang Islam tidak senang bila dikritik?
- Apakah yang melatar-belakangi agama Islam menjadi identik dengan perang dan kekerasan?
- Sebagai Muslim, bagaimana Anda menyikapi kesenjangan beragama yang terjadi di bangsa ini khususnya?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
[Staff Isa dan Islam – Rindukah saudara menerima Kasih dan Pengampunan Isa Al-Masih? Artikel tentang Keselamatan dalam Isa Al-Masih dapat membantu saudara mendapatkannya.]
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau WA/ SMS ke: 0812-9530-4930

*
Hanya bertanya: “Mengapa Isa Al-Masih disalib?”
~
Ketika Adam dan Hawa pertama kali jatuh ke dalam dosa, terbukalah jurang yang memisahkan antara Allah yang Maha suci dengan manusia yang telah berdosa.
Dalam keadaan yang berdosa, maka manusia tidak bisa menghapus dosanya dan menyelamatkan dirinya dari maut yang adalah upah dari dosa.
Oleh karena itu sejak awal kejatuhan manusia, Allah juga telah berencana menyelamatkan manusia. Rencana Allah ini digenapi melalui kematian Isa Al-Masih mati di kayu salib. Kematian-Nya menjembatani jurang antara Allah dan manusia. Hanya melalui kematian Isa Al-Masih saja jalan menuju ke sorga dibuka.
“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Injil, Surat Roma 6:23).
~
SL
*
Jawaban untuk nomor 2, setahu saya selama saya belajar agama Islam, umat Islam hanya memerangi umat non Muslim yang mengganggu, menghina, melecehkan, merendahkan, menjelekkan dan apapun itu namanya terhadap ibadah umat Islam dan agama Islam.
Selama non Muslim itu tidak menghina Allah, kitab, nabi, agama, dan ibadah umat Islam, maka kami tidak akan memerangi.
Islam tidak memaksa non Muslim untuk masuk Islam, namun jika seorang non Muslim itu sudah memutuskan untuk masuk Islam. Islam akan bertindak keras agar mualaf itu benar-benar mengerti Islam lahir batin.
Itulah yang saya mengerti, maaf bila ada salah/kekurangan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
~
Bangsa Yahudi telah mengalami tragedi “pembantaian jutaan orang Yahudi” oleh bangsa Jerman. Namun belum pernah ada satu orang Yahudi pun yang meledakkan diri di sebuah restoran Jerman maupun orang Yahudi yang membakari gereja. Bahkan belum pernah ada satu orang Yahudi yang memprotes dengan cara membunuh orang lain.
Umat Muslim Taliban telah menghancurkan-leburkan 3 patung suci Budha. Namun juga belum pernah ada umat Budha yang membalas menghancurkan mesjid, membunuhi Muslim atau membakari kedutaannya.
Hanya umat Muslim yang membela agama mereka dengan cara membakar gereja, menghancurkan kedutaan besar, dan membunuh orang. Hal sesuai dengan teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad, “Saya telah diperintah untuk berperang melawan orang-orang sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang patut dipuja selain Allah, dan Muhammad adalah rasul Allah…” (Hadits Al-Bukhari 1:24).
Sebaliknya Isa Al-Masih Sang Pembawa Damai mengatakan, “Inilah perintah-Ku (Isa Al-Masih) kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (Injil, Rasul Besar Yohanes 15:17).
~
SL
*
Jawaban untuk nomor 3, Alhamdulillah saya terlahir sebagai seorang Muslimah, dididik dan dibesarkan dikeluarga Islami. Namun, dari kecil saya di didik untuk saling menghargai dan menghormati agama lain. Saya pun berteman dengan beberapa orang non Muslim. Sejauh ini baik – baik saja, tidak pernah terjadi perselisihan sedikit pun. Hanya satu kuncinya untuk mengatasi kesenjangan agama, saling menghormati dan menghargai antar umat beragama.
~
Saudara layak bersyukur kepada Allah, karena saudara sejak kecil dididik hidup didalam kasih bukan kebencian.
Sebagaimana ajaran kasih dari Isa Al-Masih, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Injil, Rasul Besar Yohanes 13:34).
Kasih Isa Al-Masih bukan suatu koleksi kata-kata, melainkan kehidupan nyata. Kasih ini menerima, total, terbuka, tidak menghakimi, dan penuh pengampunan. Di atas segalanya, kasih Isa Al-Masih murni dan menuntut . Kasih-Nya tidak menghukum namun pada saat yang sama menuntut untuk seseorang tidak berdosa lagi.
Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” ( Injil, Rasul Besar Yohanes 8:11).
~
SL
*
Kepada Saya,
Sayangnya tidak semua umat Muslim berpikir seperti anda.
Contohnya umat Muslim di Jakarta menolak lurah yang beragama Kristen dengan alasan tidak sesuai budaya setempat. Kemudian di Bekasi, gereja dilarang dibangun. Apakah ini toleransi beragama? Padahal orang-orang ini tidak mengganggu Islam sama sekali!
~
Saudara One Piece,
Terima kasih untuk komentar saudara, semoga dapat memberikan pencerahan bagi umat Muslim.
Dan marilah kita terus berdoa, agar umat Muslim dibukakan hatinya untuk kasih dan kebenaran Allah.
“Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (Injil, Surat Efesus 1:16-17).
~
SL
~
Menurut saya yang non Muslim, saudara-saudara umat Muslim belum terbiasa dengan dialog. Mendengarkan orang lain, menghargai kebenaran pada orang lain. Ini perlu dilatih.
~
Sudara Ybsap,
Sebagai manusia kita memiliki kecenderungan mementingkan dan membenarkan diri sendiri. Kita menganggap diri paling benar sehingga kita sulit sekali menjadi pendengar yang baik bagi orang lain.
Mendengarkan orang lain berarti punya rasa penghargaan terhadap orang lain. Dan tanda bahwa kita mampu memahami mereka; mau mendengarkan orang lain berarti pula rela menerima teguran, masukan, kritik, saran ataupun nasihat dari orang lain.
Jadi agar kita dapat mendengarkan dan menghargai orang lain, dibutuhkan kerendahan hati. Biasanya seorang yang memiliki kecenderungan tidak mau mendengarkan orang lain karena ego dan gengsinya tinggi.
“Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Injil, Surat Filipi 2:3-4).
~
Slamet
~
Tidak usah jauh-jauh bahasnya, di sekolah saja, saya sering dihina bahkan di cemooh sebagai pengikut Kristus.
Bingung dan heran semua menjadi satu campur-aduk. Sebenarnya beberapa teman Muslim yang menghina saya itu tidak ada satupun yang pernah saya ganggu. Mereka semua adalah orang yang taat kepada agamanya, kok bisa ya?
~
Saudara Kiel,
Kalau sebagai pengikut Isa Al-Masih dihina dan dicemooh, kita sebenarnya kita tidak perlu heran. Karena Kitab Suci sudah menubuatkan tentang hal ini. “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (Injil, Surat 2 Timotius 3:12).
Dan hal penting yang perlu kita ingat adalah ketika orang-orang Kristen dianiaya, Alkitab mengajarkan bahwa sebenarnya yang dianiaya adalah Yesus. Untuk ini mari kita perhatikan pengalaman Rasul Paulus yang menganiaya orang-orang Kristen sebelum ia bertemu Yesus dan bertobat.
Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Dalam perjalanannya ke Damsyik,…, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Injil, Surat Kisah Para Rasul 9:1-5).
~
Slamet
~
Kepada Saya,
Rasanya ada beda-beda tipis ya antara kritikan dan penghinaan. Seringkali orang yang mengkritik dianggapnya menghina. Dalam awal sejarah Islam, seringkali seringkali orang yang dianggap menghina diperlakukan dengan sangat hina bahkan di luar batas perikemanusiaan.
Saya pesimis umat Islam sedunia mau menerima kritikan terhadap dogma, kitabnya dan nabina. Sejarah Islam sudah membuktikan bahwa kritikan terhadap itu semua merupakan penghinaan terhadap Islam, dan orang yang menghina halal darahnya untuk ditumpahkan.
Bersikap bijaksanalah dalam menghadapi Islam, janganlah bikin batu sandungan bagi kita semua.
~
Memang sulit bagi umat Muslim untuk memahami pengertian kebebasan beragama. Karena Hukum Islam menyatakan bahwa Islam tidak boleh dikritik oleh siapapun. Al-Quran dan hadist adalah harga mati, tidak bisa ditawar.
Sebaliknya, mereka tidak merasa bersalah, bila mengkritik bahkan mengutuk agama orang lain. Umat Yahudi dan Kristen disebut sebagai kafir, musyrik dan sesat, dan sejahat-jahatnya binatang.
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (Qs 8:55).
Kritik tidak sama dengan penghinaan. Ketika seseorang memberikan kritikan yang bersifat membangun, sebenarnya mereka tidak bermaksud memberikan penyerangan terhadap tujuan maupun karakter Islam. Melainkan hanya suatu diskusi yang jujur dan terbuka yang dapat menghilangkan prasangka.
Jadi agama yang benar, seharus tidak perlu merasa takut dan menghindarikan diri dari suatu pencaharian kebenaran. Sebagaimana Isa Al-Masih tidak pernah menggunakan kekerasan ketika menghadapi para pengkritiknya. Dia hanya menjawab: “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya , ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri” (Injil, Rasul Besar Yohanes 7:17).
~
Slamet
~
Saudara Anti Islam,
Terima kasih atas komentar dan kesediaan saudara untuk membaca artikel yang ada pada situs Isa dan Al-Fatihah. Namun mohon maaf kalau kami terpaksa menghapus komentar saudara. Karena komentar saudara dapat menimbulkan kesalah-pahaman bagi saudara kita yang lain.
Demikian harap makhlum adanya.
~
Slamet
~
Puji Tuhan!
Terima Kasih atas masukannya staf Isa dan Al-Fatihah. GBU
~
Kepada Staf Isa dan Al-Fatihah,
Itu karena masing-masing golongan merasa lebih baik dari golongan yang lain. Dan selalu menonjolkan perbedaan bukan berusaha untuk mencari persamaan. Seperti yang sedang saudara lakukan sekarang. Kalau boleh saya tambahkan Tuhan tidak pernah membedakan satu golongan dengan golongan yang lain. Tuhan memerintahkan kita agar saling berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan bukan sebaliknya.
~
Orang yang kelihatannya terlalu “percaya diri”, sehingga ia menganggap dirinya hebat, dan tidak mau dikritik sebenarnya tidak baik/sehat. Orang yang bersikap seperti ini biasanya juga akan bersikap mau menang sendiri, tinggi hati, meremehkan orang lain, dan bahkan bersikap agresif.
Ironisnya, orang yang mempunyai sikap seperti ini sebetulnya adalah orang yang tidak mempunyai percaya diri, ia adalah orang mempunyai kelemahan pada dirinya. Dan untuk menutupi kelemahannya., ia selalu mencari pertahanan dan pembenaran akan kehebatan dirinya.
Allah berkenan dengan orang mempunyai sikap rendah hati bukan sikap tinggi hati dan mementingkan diri sendiri ini. Oleh karena itu dalam Kitab Suci, Dia memberikan nasehat “Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Injil, Surat Filipi 2:3-4).
~
Slamet
~
Apabila kita ingin mengkaji sebuah kitab, hendaklah kita memahami dulu bagaimana ayat-ayat dalam kitab disusun. Ayat Al-Quran disusun dengan makna tersirat dan tersurat. Jadilah orang berilmu untuk bisa memahami Al-Quran.
Apabila ada kata “Perang” maka harus dilihat, apakah itu tersirat atau tersurat. Apabila ada yang salah mengartikan, itu karena keterbatasan manusia bukan keterbatasan kitab apalagi keterbatasan kuasa Allah. Sekali lagi, tiada satupun prosa buatan manusia yang dapat menandingi ayat-ayat Al-Quran.
~
Memang tidak salah istilah “Perang” dalam Al-Quran bisa dimaksudkan untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan disebut mujahid ilmu. Untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh mencurahkan hidupnya untuk da’wah maka disebut mujahid da’wah.
Namun juga ada ayat-ayat perang dalam Al-Quran yang mempunyai arti sebenarnya.
Muhammad berkata pada pengikutnya: “Aku akan menjatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggalah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka” (Qs 8:12).
Isa Al-Masih memerintahkan kepada para pengikut-Nya untuk mengasihi musuh-musuhnya.
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Injil, Rasul Besar Matius 5:44-45).
~
Slamet
~
Saya orang Islam, saya belajar mengenai Islam sejak kecil. Bagi saya, Islam itu baik. Dan bagi anda, Kristen itu baik.
Saya telah mempelajari tentang toleransi antar umat beragama. Islam tidak pernah berbuat jahat terhadap siapapun. Hanya saja, setiap manusia diciptakan berbeda-beda, dengan tingkat pengetahuan dan kadar keimanan yang berbeda-beda.
Mengenai tindakan-tindakan yang sudah terjadi, tentu saja kita tidak mengetahui sepenuhnya tentang kebenaran suatu masalah. Hanya Tuhan Yang Maha Esa saja yang mengetahui. Dan setiap sejarah memiliki suatu pandangan yang berbeda dari setiap orang melihatnya.
Mohon maaf, saya mencoba menengahkan pandangan terhadap agama Islam. Terima kasih.
~
Benarkah dalam Islam tidak pernah ada tindakan kekerasan?
Bukankah ada banyak ayat-ayat dalam Al-Quran yang memerintahkan umat Muslim untuk membunuh kaum musyrikin?.”Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian” (Qs 9:5).
Juga terdapat ayat-ayat yang menyuruh orang Muslim untuk menggentarkan hati musuh Allah. “Dan siapkanlah untuk … menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya”(Qs 8:60).
Sebaliknya Isa Al-Masih mengajarkan kepada pengikut-Nya untuk mengasihi musuh. “Jangan kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Kasihlah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak (Allah) Bapamu yang di sorga” (Injil, Rasul Besar Matius 5:38-48).
~
Slamet
~
Jika anda ingin meluruskan agama Islam, harusnya anda mempelajari agama Islam lebih dalam, karena setiap pertanyaan anda ada di dalamnya.
~
Memang dalam Islam juga ada ayat-ayat Al-Quran yang menunjukkan bahwa untuk memeluk agama Islam tidak ada paksaan.
“Tidak ada paksaan dalam memasuki agama Islam” (Qs 2:256).
Bahkan Allah dalam Al-Quran memerintahkan umat Muslim agar mengajak non muslim untuk masuk Islam dengan cara yang baik.
“Ajaklah manusia kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Qs 16:125).
Tapi di sisi lain Allah memerintahkan umat Muslim untuk membunuh siapapun yang menolak Islam, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan Laa ilaha illallaah” (Hadist Al-Bukhaariy no. 393).
Dan membunuh orang yang meninggalkan Islam. ‘Barangsiapa yang menukar/mengganti agamanya, maka bunuhlah ia” (Hadist Al-Bukhariy no. 3017).
~
Slamet
~
Yang tidak membolehkan kritik itu orang Islam atau agama Islam? Kalau bicara orang, mereka bisa siapa saja. Sebagaimana sifat manusia biasa pada umumnya. Mereka bisa jadi bandit, penjahat, pembunuh, kolonialis dst.
Kalau agama Islam, bisa dikritik. Lihat saja aneka tafsir yang kadang saling bertentangan 1 sama lain terhadap arti ayat, belum lagi bicara mazhab yang cukup variatif. Buku-buku mazhab dan tafsir mereka juga penuh perdebatan argumen untuk menjelaskan tentang arti ayat Al Quran.
~
Hukum Islam menyatakan bahwa agama Islam tidak boleh dikritik oleh siapapun.
Bagi mereka, orang yang memberi kritikan kepada nabi Muhammad atau Al-Quran harus dihukum mati.
Sebaliknya, mereka tidak merasa bersalah, ketika mengkritik bahkan mengutuk agama orang lain. Kaum non-Muslim termasuk Yahudi dan Kristiani disebut sebagai kafir, musyrik, sesat, dan sejahat-jahatnya binatang.
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (Qs 8:55).
~
Slamet
~
Siapa yang menciptakan langit dan bumi?
Jika Isa Al-Masih dilahirkan oleh seorang manusia perempuan, mengapa Ia bisa menjadi Tuhan?
~
Jika kita memahami bahwa yang terlibat dalam penciptaan adalah Allah Tritunggal maka sama sekali tidak masalah kalau Isa Al-Masih disebut Pencipta langit dan bumi.
Ajaran Tritunggal menyatakan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah Allah yang esa. Sang Anak adalah Sang Firman, yang adalah Allah sendiri dan yang sejak semula bersama-sama dengan Allah (Injil, Rasul Besar Yohanes 1:1).
Karena Isa Al-Masih adalah pribadi kedua Tritunggal, maka Ia memiliki dua natur, Allah dan manusia, itulah sebabnya kita bisa mengatakan bahwa Isa adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu.
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” Injil, Surat Kolose 2:9).
Jadi Isa Al-Masih bukan Tuhan yang dijadikan, melainkan Tuhan yang telah menjadi manusia melalui perawan Maria.
~
Slamet
~
To Kristiani,
Anda mengatakan agama anda agama cinta kasih. Tetapi kalian masih makan makanan yang bernyawa. Mengapa kalian masih membunuh nyamuk? Bukankah binatang itu juga adalah makhluk Tuhan yang memiliki hak hidup!
Mengapa ayat Alkitab penuh kekejaman sehingga wanita dan bayi dan tidak berdosa harus dibunuh (kisah kaum Amalek)? Mengapa bangsa kalian menjajah dan menduduki dengan keji bangsa lain di dunia ini? Membuat bom nuklir dan membunuh umat manusia?
~
Saudara Pengamat kiranya dapat merenungkan dengan baik-baik ayat berikut:
“Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini” (Injil, Rasul Markus 12:31).
Bila Sdr. Pengamat membaca dalam Injil, maka saudara tidak akan menemukan satupun ayat yang merupakan perintah dari Allah, agar umat-Nya saling membunuh. Sedangkan tentang kisah Amalek yang saudara kutip, saran kami ada baiknya saudara membaca kisah tersebut dari awal hingga akhir. Supaya saudara mengerti apa maksud dari kisah tersebut.
Bandingkanlah dengan ayat berikut ini, “Penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka… barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaanNya” (Qs 8:12-13).
Itulah sebanya mengapa ajaran Isa Al-Masih disebut ajaran cinta kasih.
~
Saodah
~
Tulisan ini lucu. Ada milyaran umat Islam di dunia dan yang berbuat tidak benar hanya 0,00001%. Tapi oleh penulis langsung dituduh Islam mengajarkan kekerasan. Mata penulis ditutup untuk 99,9999 umat Islam yang baik dan benar.
Tapi saya maklum dan paham maksud dan tujuan dari penulis. Tidak apa, ini bagian dari perjuangan Islam. Kami tidak akan terpancing untuk menjadi pembunuh seperti yang anda inginkan. Anda tetap bisa hidup nyaman di Indonesia, bahkan mengembangkan agama anda.
~
Saudara Omzel,
Sebenarnya tidak ada yang lucu dari tulisan di atas. Semua ditulis berdasarkan fakta. Bila kita membaca Al-Quran, tidak sedikit ayat yang mengajarkan untuk membunuh sesama umat manusia. Contohnya: Qs 2:216; Qs 4:104, dll.
Selain itu, sepak terjang ISIS di dunia ini adalah fakta bahwa agama Islam mengijinkan kekerasan. Fakta lain, tentu Sdr. Omzel dapat melihat bagaimana ormas Islam mengupayakan segala cara (termasuk dengan cara yang tidak baik) agar gubernur DKI Jakarta diganti, dengan alasan dia bukan seorang Muslim. Sementara, kita tahu bahwa Jakarta bukan kota Islam, bukan?
Berbeda dengan ajaran yang disampaikan oleh Isa Al-Masih dalam Kitab Suci Injil. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Injil, Rasul Besar Matius 5:44)
~
Saodah
***
1. Siapa yang bilang orang Islam tidak senang dikritik? Anda sendiri bukan? Pernahkan anda datang ke majelis kami, mengikuti setiap diskusi yang kami lakukan? Datanglah ke sana dan jelaskan maksud anda. Anda pasti diterima dengan baik, dan cobalah bertanya di sana.
2. Pertanyaan anda ke dua sangat lucu. Apakah agama Islam mengajarkan kekerasan? Apakah dalil di atas yang anda pakai sebagai dasar? Kalau begitu saya balik tanya, apa asbabun nuzul ayat-ayat di atas? Bisa jawab? Jika anda menjawab tidak tahu dan malah bertanya kepada kami, sudah jelas postingan ini dibuat atas dasar ngawur.
~
Saudara Cam,
1. Bila saudara mengikuti diskusi di forum ini, maka saudara akan melihat dimana teman-teman Islam hanya senang mengkritik ajaran Kristen. Dan mereka akan marah ketika kami memberi kritik terhadap ajaran Islam. Itulah faktanya! Dan dari tulisan saudara, kami dapat melihat dengan jelas bahwa sebenarnya saudara pun tidak senang dengan artikel di atas. Bukankah itu bukti sebuah penolakan dari saudara?
2. Silakan melihat jawaban kami untuk komentar dari Sdr. Omzel di atas. Di sana kami sudah memberi fakta-fakta, baik dari kitab suci saudara maupun fakta yang ada, yang menyatakan bahwa agama Islam memperbolehkan kekerasan pada sesama umat manusia.
~
Saodah
~
Sdr. Staf Isa dan Islam,
Membaca ulasan anda di semua kanal yang anda kelola ternyata saya dapat menyimpulkan bahwa anda sangat mencintai agama Islam. Agama tauhid, agama yang menyempurnakan seluruh agama di dunia. Silahkan pelajari lebih dalam dengan bertanya, membaca dan bergaul dengan kaum muslim. Insyaa Allah anda mendapatkan Hidayah dari Allah SWT.
~
Saudara Ahmad Zaihab,
Terimakasih untuk penilaian saudara. Tapi sepertinya kita mempunyai pandangan yang berbeda. Saudara salah bila mengatakan kami sangat mencintai agama Islam. Karena menurut kami hanya Allah yang layak untuk dicintai. Sebab hanya Dia yang dapat menyelamatkan umat-Nya dari hukuman neraka.
Sedangkan agama jelas tidak dapat menyelamatkan pengikutnya. Agama hanya aturan yang dibuat sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik.
Bila tidak keberatan, kiranya saudara berkenan merenungkan perkataan Isa Al-Masih berikut ini: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6)
~
Saodah
~
Jangan heran bila orang Islam sangat marah jika agamnya dikritik. Sebab memang mereka diajarkan dan ditekankan untuk lebih mengasihi Allah, nabi, Al-Quran dan agamanya sendiri, dari pada mengasihi sesama manusia. Bahkan nyawa pun dikorbankan demi membela agama Islam.
Mereka tidak menyadari, sebenarnya yang mereka lindungi, jaga, bela, tegakan, adalah “Aset Eonomi” bangsa Arab.
~
Lucu baca dialog ini teruma para staff yang memberi jawaban. Sangat tidak berimbang dan yang Anda kutip dari Alkitab itu cetakan tahun berapa?
Kenapa yang ada hubungannya dengan Islam selalu Anda cari yang terburuk? Sedangkan Kristen di Alkitab ada ayat yang berbunyi “jangan kira aku datang membawa damai, melainkan membawa pedang.”
~
Sdr. Bangkai,
Terimakasih untuk penilaian yang sdr berikan. Jika ada yang kurang benar dari jawaban-jawaban yang kami berikan, kami tidak keberatan bila sdr menanggapinya.
Soal pertanyaan sdr tentang cetakan Alkitab yang kami pakai. Menurut kami, tahun berapapun Alkitab tersebut dicetak, tidak menjadi masalah. Sebab isinya tetap sama. Bukankah yang kita perlukan adalah isinya dan bukan tahun cetakannya?
Memang benar dalam Alkitab Yesus pernah berkata, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”
Perlu sdr ketahui, “pedang” pada kalimat tersebut hanya kata metafora. Bukan “pedang” dalam arti sebenarnya. Bila sdr ingin mengerti maknanya, silakan membaca di sini: http://tinyurl.com/lon2dxj.
~
Saodah