Beberapa tahun silam, saya tinggal di salah satu desa di Jawa Barat. Di sana tidak ada supermarket seperti di kota-kota besar. Sehingga, untuk membeli bahan makanan pokok, saya harus belanja di pasar tradisional yang buka hanya pagi hari.
Suatu hari saya hendak membeli ayam. Saat itu ada ayam hidup yang belum dipotong.
Lalu seseorang berkata: “Mas, potong ayamnya harus secara Islam. Yaitu harus mengucap bismillah terlebih dahulu. Karena Muslim haram makan ayam yang dipotong tanpa mengucap bismillah.”
Mari kita pelajari apa makna kata bismillah bagi Mukmin dan seberapa penting untuk mengucapkannya. Dapatkah mengucap bismillah membantu kita mendapatkan Rahmat Allah?
Pentingnya Makna Kata Bismillah Bagi Muslim
Kata bismillah berasal dari bahasa Arab. Terdiri dari dua suku kata. Yaitu “bism” yang berarti dengan atau atas nama. Dan “Illah” yang berarti Tuhan atau Allah.
Makna kata bismillah adalah “Dengan nama Allah.” Sementara arti bismillahirrahmanirrahim adalah “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Dalam Al-Quran, bismillahirrahmanirrahim sering menjadi pembuka ayat. Salah satunya dalam surat Al-Fatihah. Hal ini menjadi bacaan wajib ketika menunaikan ibadah sholat fardhu maupun sunnah.
Umat Islam mengucapkan bismillah untuk meniatkan segala sesuatu yang akan dilakukan atas nama Allah. Yaitu mengharapkan berkah dan perlindungan-Nya.
Jadi, makna kata bismillah untuk mengingat dan memohon keridaan Allah. Sehingga umat bisa mengucapkannya dalam melakukan segala sesuatu dan kapanpun mereka mau.
Walau tentu saja hanya terbatas pada hal kehidupan dan yang baik. Tidak boleh mengucap bismillah jika hendak melakukan dosa atau kejahatan.
Makna Kata Bismillah untuk Potong Hewan
Jadi memang mengucap bismillah bisa mengawali setiap aktivitas yang akan Mukmin lakukan. Termasuk aktivitas sederhana seperti makan, pergi, bahkan memotong hewan.
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan . . .” (Qs 6:121).
Banyak umat yang percaya bahwa hal ini sangatlah penting. Karena hewan menjadi tidak halal jika lupa mengucapkan saat menyembelihnya. Atau makanan yang kita makan dapat mendatangkan keburukan.
“. . . Seorang laki-laki sedang makan, sementara Nabi melihatnya. Laki-laki itu belum membaca Basmalah hingga ia menyudahi makannya, . . . Maka Nabi bersabda: ‘Syetan masih terus makan bersamanya hingga ia membaca Basmalah. Maka tidak ada sedikit makanan pun yang tersisa di perutnya kecuali syetan mengeluarkannya'” (Musnad Ahmad 18195).

Tidak Wajib Mengucapkannya?
Namun rupanya ada pandangan lain. Beberapa golongan melihat makna kata bismillah dengan cara berbeda.
Bahwa tidak wajib mengucapkannya dalam segala tindakan. Beberapa dalilnya adalah:
- Cukup saat makan saja.
“. . . ‘Wahai Rasulullah, ada sekelompok orang datang kepada kami dengan membawa daging. Kami tidak tahu, apakah mereka menyebut nama Allah atau tidak (saat menyembelihnya).’ Rasulullah bersabda, ‘Bacakanlah basmalah padanya dan makanlah’” (Sunan Daruquthni 4763).
Hadis ini tegas menyebutkan Nabi Islam tidak terlalu peduli apakah hewan itu disembelih dengan membaca bismillah atau tidak. Beliau memerintahkan untuk memakannya saja.
Seandainya bacaan ini adalah mutlak saat penyembelihan, maka seharusnya dipastikan terlebih dahulu. Atau jika tidak bisa, maka makanan itu terlarang.
- Sembelihan ahli kitab halal.
“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka . . .” (Qs 5:5).
Padahal zaman itu para ahli kitab belum tentu membaca bismillah. Atau malah ada yang sama sekali tidak membacanya. Namun Al-Quran sendiri yang menegaskan kehalalannya.
- Karena konteks zaman dahulu.
Selanjutnya ada pandangan lain. Bahwa dalil yang melarang memakan hewan yang tidak disebut dengan nama Allah berhubungan dengan keadaan zaman dahulu. Yaitu niat penyembelihannya untuk persembahan kepada berhala. Hal ini tentu terlarang.
Masalah Terutama

Kerinduan utama kita adalah untuk masuk surga. Masalahnya semua hal makanan tidak memberikan jaminan selamat.
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah . . . maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya . . . Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya . . .” (Qs 22:36-37).
Rupanya perihal makanan tidak menjamin surga. Allah meminta ketakwaan umat-Nya.
Tapi kita manusia penuh kelemahan. Kita bisa berusaha takwa. Tapi kenyataannya tetap melakukan banyak dosa.
Demikianlah kedaan kita. Bagaimana kita menjaga peraturan ketat sehubungan masalah makanan halal dan mengucap bismillah. Namun pada akhirnya tidak bisa mencapai surga Allah.
Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Memang benar Allah adalah Maha Suci. Namun Ia juga Maha Kasih.
Karena itu Allah ingin mengajarkan kasih-Nya kepada manusia. Ia juga dalam kasih-Nya mau menyelamatkan manusia.
Puncak pernyataan Allah adalah dengan Ia menjelma menjadi manusia. Ini adalah Isa Al-Masih.

“Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, . . . segala sesuatu yang keluar dari mulut berasal dari hati . . . dari dalam hati keluar pikiran-pikiran yang jahat, seperti pembunuhan, percabulan, perzinaan, pencurian, saksi dusta, dan hujatan” (Injil, Matius 15:11, 18-19).
Nama Allah yang Menyelamatkan
Karena itu Allah memberikan cara untuk membersihkan hati manusia. Allah mau mengampuni dosa. Ia juga mau memberikan kita hati yang baru.
“Kemudian, Aku akan mengaruniakan kepadamu hati yang baru serta menaruh ruh yang baru dalam batinmu. Akan Kusingkirkan hati yang keras dari tubuhmu dan Kukaruniakan kepadamu hati yang lembut” (Taurat, Yehezkiel 36:26).
Allah melakukannya melalui Isa Al-Masih. Isa sebagai penjelmaan Allah adalah manusia tidak berdosa. Namun Ia berkorban pada kayu salib untuk menanggung dosa manusia.
Kita bisa menjadi halal di hadapan Allah. Caranya adalah dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
“. . . Allah menyatakan kita “tidak bersalah,” bila kita mempercayai mengimani Isa Al-Masih. Karena kebaikan-Nya, menghapuskan dosa kita dengan cuma-cuma” (Injil, Surat Roma 3:24 FAYH, parafrasa).
Dengan Nama Allah yang Menyelamatkan
Makna kata bismillah adalah untuk mengingat Allah dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. Yang terutama kita bisa mengingat-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan manusia.
Jauh lebih dalam dari perihal makanan. Manusia perlu mendapatkan hati yang bersih untuk saling mengasihi dan juga mendapat surga Allah.
Kita bisa mengingat Allah dan mengucap syukur. Karena Ia menyediakan keselamatan-Nya melalui Isa Al-Masih.
Maukah Anda menerima keselamatan Allah? Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Apakah Bukti Utama Sifat Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim bagi Manusia?
- Kapan Ucapan “Bismillah” Ditolak Allah?
- Cahaya Allah Dalam Al-Quran Yang Menerangi Kehidupan!
Video:
Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Manakah yang lebih baik, mengkonsumsi daging yang dipotong tanpa mengucapkan bismillah atau berzinah? Sebutkan alasannya!
- Mengapa mengasihi sesama adalah hal terpenting yang perlu dilakukan oleh umat beragama disamping kegiatan keagamaan lainnya?
- Menurut saudara, mengapa ibadah keagamaan bagi seseorang bisa hanya sekedar runitas semata dan tanpa makna?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel “Pentingnya kata “bismillah” – Makan Yang Halal Atau Belas-Kasihan?”, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS ke: 0812-9530-4930

~
1. Dan sembelihan ahli kitab hukumnya halal bagimu. (Qs Al-Maidah:5), kalau berzinahkan sudah jelas itu dosa.
2. Dalam Islam adalah hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama.
3. Bukankah sangat bagus apabila beribadah bisa masuk kedalam rutinitas? Makin sering berutinitas, makin sering beribadah.
Kalau Sholat 5 waktu bukan sekedar rutinitas lagi. Makna dan khasiat Sholat adalah menghapus dosa kecil, jadi dalam sehari Muslim itu dalam sehari 5× dihapuskan dosanya.
~
Saudara Rheinmetall,
Terima kasih telah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami di atas.
1. Bagaimana bila penyembelih bukan ahli kitab?
2. Ya, tentunya setiap agama mengajarkan kasih akan Allah dan sesama. Kalau boleh tahu apakah Sdr. Rheinmetall sudah melakukan itu? Bisa dibagikan pengalamannya?
Demikian Isa Al-Masih mengajarkan dan memberi teladan kasih. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Injil Matius 22:37-39).
3. Memang sering beribadah adalah baik. Namun bila hanya rutinitas saja itu bukan sebuah kerinduan mendalam dari dasar hati, tetapi pada sebuah legalitas semata, bukan?
Sholat berkhasiat menghapus dosa? Apa Allah dapat disebut Maha Adil bila membiarkan dosa tidak dihukum dan terhapus dengan melakukan sholat? Silakan direnungkan baik-baik saudaraku!
~
Daniar
~
Ibadah keagamaan bagi seseorang bisa hanya rutinitas saja tanpa makna. Apabila tidak dapat menerapkan pengajaran yang baik dan benar tentang hal hukum kasih. Dimana harus dilakukan setiap orang yang beriman baik dalam keluarga, tetangga, teman serta setiap manusia.
~
Saudara Ampigang Ernst,
Terima kasih atas jawaban saudara. Kiranya ibadah yang kita lakukan tidak hanya rutinitas tanpa makna dan arti. Tetapi lebih mengutamakan keadilan, belas-kasihan, dan kesetiaan. Itulah yang diajarkan Isa Al-Masih.
~
Daniar