Saya pernah menempuh perjalanan jauh. Namun rupanya saya tersesat. Padahal sudah ada pemandu lokal yang menemani.
Pernahkah Anda tersesat? Kita pasti merasa bingung dan lelah saat mengalaminya.
Dalam hidup kita bisa tersesat. Namun jangan sampai kita tersesat di perjalanan ke akhirat. Karena ada hukuman berat menanti.
Umat Islam sering memanjatkan doa mohon petunjuk kepada Allah. Tujuh belas kali sehari, 510 kali dalam sebulan, 3.164 kali dalam setahun.
Seorang Mukmin berdoa, Ihdinas Sirotol Mustaqim. Kita memohon, “tunjukilah kami jalan yang lurus” kepada Allah.
Namun yakinkah Anda tidak akan tersesat? Mari kita simak pembahasan doa mohon petunjuk kepada Allah dan jawaban-Nya. Agar kita mendapatkan hidayah-Nya.
Ada Jalan yang Disangka Benar, Namun Tidak!
Saya pernah berpetualang di alam bebas. Saya dan beberapa teman mencari suatu lembah yang sangat indah.
Untuk mencapainya kami perlu melakukan perjalanan yang sangat jauh. Kami melewati berbagai desa, gunung dan hutan.
Pada awalnya kami merasa yakin, karena ada orang lokal menemani. Ia berkata ia tahu lokasinya. Namun pada kenyataannya kami tersesat. Kami tidak tahu kami berada di mana.
Saat itu tidak ada signal telepon. Sehingga kami hanya bisa meminta petunjuk dengan bertanya kepada orang di desa yang kami temui.
Awalnya, ada seseorang berkata: “lembah itu sudah dekat. Ikuti jalan ini, maka satu jam lagi akan sampai.” Namun kenyataannya dua jam kemudian, kami tidak menemukan apa-apa.
Butuh waktu lama dan perjalanan melelahkan untuk mencapai tujuan. Rupanya terlepas dari semua persiapan, kita bisa saja tersesat!
Melihat pengalaman ini mengingatkan saya akan pepatah bijak. “Banyak jalan yang lurus menurut anggapan orang, tetapi akhirnya menuju maut.”
Kerinduan Doa Mohon Petunjuk Kepada Allah
Demikianlah kita sebagai manusia merindukan jalan ke surga. Kita berdoa mohon petunjuk kepada Allah untuk mendapat jalan lurus.

Namun yakinkah Anda pasti mendapatkannya? Karena kadang apa yang kita anggap petunjuk ternyata menyesatkan. Seperti teman pemandu kami yang seharusnya tahu jalan, tapi rupanya ia lupa jalur yang tepat.
Terlebih lagi manusia bisa khilaf. Kita bisa saja keluar dari jalan yang benar dan tersesat.
Manusia Berdosa Tersesat
Kendala terbesar manusia adalah dosa. Kita semua selama hidup kita pasti melakukan banyak dosa. Tidak ada manusia mampu hidup sempurna.
“Sekali-kali manusia tidak akan binasa hingga mereka banyak melakukan kesalahan . . .” (Hadits Abu Daud 3783).
Masalahnya dosa kita akan menjadi titik hitam. Yaitu kegelapan dalam hati yang membutakan.
“Sesungguhnya apabila seorang Mukmin berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di dalam hatinya . . . jika ia menambah (dosanya) maka akan bertambah (titik hitam), maka itulah penutup (hati) . . .” (Sunan Ibnu Majah 4234).
Jadi rupanya sulit manusia berdosa mendapat jalan yang benar. Kita bisa saja doa mohon petunjuk kepada Allah dan taubat. Tetapi tetap saja ada dosa yang kita perbuat.

Dalam hal ini bagaimana pertolongan dari Allah?
Peraturan Agama Petunjuk Allah?
Agama mengajarkan bahwa syariat agama adalah petunjuk. Manusia perlu mengetahui dan melakukannya.
Orang yang mendapat hidayah adalah orang yang takwa. Dan orang yang mengabaikan syariat pasti berada dalam kesesatan.
Namun tidak ada manusia yang mampu menjalankan semua dengan sempurna. Tetap saja kita akan ada kesalahan.
Hal ini akan menutupi hati kita. Membuat kita tidak mendapat petunjuk-Nya. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka” (Qs 83:14).
Karena itu Allah menyediakan jalan keluar. Solusi ini berasal dari Allah, dan bukan karena perbuatan baik manusia.
Kita bisa mendapatkan petunjuk-Nya dari kitab-kitab Allah.
Petunjuk Allah Untuk Manusia
Kitab Allah adalah Taurat, Zabur dan Injil. Melaluinya Allah menyatakan petunjuk jelas untuk menolong manusia.
Umat Islam wajib menegakan ajaran Kitab Taurat, Zabur dan Injil (Qs 5:68). Hal ini jelas karena di dalamnya ada petunjuk dan cahaya Allah yang menerangi (Qs 5:46).
Kita tidak perlu takut akan keaslian isi semua kitab ini. Allah menjamin bahwa Ia sendiri akan menjaga firman-Nya (Qs 6:115).
Kitab Allah menjelaskan bahwa kita semua tersesat seperti domba, setiap orang menyimpang menurut jalannya sendiri. Melalui Isa, Allah menolong manusia. Isa akan membersihkan manusia dari dosa.
Jadi, Kitab Allah memberitahu jalan keluarnya. Yaitu melalui Isa Al-Masih.
Isa adalah Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia. Ia lahir melalui rahim perawan Maryam. Sehingga Isa hakekat-Nya adalah Ilahi.

Melalui Isa, Allah mengampuni dosa kita. Hati kita akan dibersihkan dari semua kekotoran dosa. Sehingga kita akan melihat jalan-Nya dengan jelas.
Bahkan Isa sendiri adalah jalan kebenaran. Yaitu agar manusia berdosa dapat mencapai surga Allah.
“Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tak seorang pun datang kepada Sang Bapa [Allah], kecuali melalui Aku” (Injil, Yahya 14:6).
Jawaban Doa Mohon Petunjuk Kepada Allah
Jadi kita mendapat petunjuk pasti. Ini adalah jawaban doa banyak orang.
Allah memberikan pertolongan bagi manusia berdosa. Kita memperoleh jalan-Nya dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
“Allah menunjukkan kepada kita suatu jalan lain ke surga. Bukan dengan ‘menjadi cukup baik’ dan berusaha menaati hukum-hukum-Nya. Melainkan Allah akan mengampuni doa kita bila kita mengimani Isa Al-Masih menghapuskan dosa kita” (Injil, Surat Roma 3:21-22, FAYH, parafrasa).
Memang benar, “Banyak jalan yang lurus menurut anggapan orang, tetapi akhirnya menuju maut.” Hal ini karena manusia lemah, hati kita penuh kegelapan dosa.
Namun Allah menyediakan petunjuk-Nya. Dengan demikian kita memperoleh jalan lurus kepastian surga.
Maukah Anda menerimanya? Mari mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Banyak Jalan ke Roma Tetapi Hanya Satu Jalan ke Surga
- Ini Petunjuk Arah Ke Surga Yang Dirindukan Umat!
- Bagaimana Kita Dapat Menemukan Jalan Menuju Surga Allah?
Video:
Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Apakah Saudara mempelajari Kitab-kitab Suci Allah sebelum Al-Quran? Apa yang Saudara dapatkan melalui pembelajaran Kitab-kitab tersebut?
- Apakah Saudara mempercayai bahwa Kitab-kitab tersebut sudah berubah? Apa bukti-buktinya?
- Apakah Saudara sudah mempercayai Isa Al-Masih sebagai “jalan” kebenaran kepada Allah? Apa yang mendorong Saudara untuk mempercayai atau tidak mempercayai-Nya?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda*****pada komentar-komentar yang kami merasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel “Al-Fatihah, Surat Permohonan “Jalan” Kepada Allah”, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS ke: 0812-9530-4930

~
Nabi kami mengajarkan bakti kepada ibu bapa sebagai jalan menuju keridhoan Tuhan. Karena melalui ibu bapa lah Tuhan menghadirkan kami dan manusia ke dunia.
Yesus “Akulah Kebenaran dan Hidup, tiada yang datang kepada Bapa kecuali melalui Aku.” Bagaimana kami akan mengikuti ucapan Yesus yang mengajarkan manusia untuk durhaka kepada ibu bapanya, dengan mengatakan bahwa jalan menuju Tuhan harus melalui Dia, padahal Tuhan menghadirkan Dia dan manusia dari rahim seorang ibu?
~
Saudara Agus Winanto,
Memang benar apa yang saudara katakan, kita harus berbakti kepada orang tua (ibu bapa).
Pertanyaannya: Apakah dengan berbakti kepada orang tua, maka Allah tidak akan lagi memperhitungkan dosa-dosa saya? Inilah pertanyaaan yang seharusnya sdr renungkan juga.
Memang benar Yesus hadir ke dunia melalui proses dilahirkan. Itulah pertanda bahwa Yesus 100% manusia dalam ke-Ilahian-Nya. Mengikut Yesus, bukan berarti durhaka kepada orang tua. Mengikut Yesus artinya, sdr akan menerima kebenaran dan hidup yang kekal. Karena Yesus adalah kebenaran dan hidup itu sendiri!
~
Saodah
~
To saudaraku umat Nasrani,
Mengapa kalian mempertuhankan Yesus? Tolong renungkan, apakah Yesus yang memiliki kuasa atas kalian?
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (Al Baqarah:28).
~
Saudara Gunanto,
Maaf, kami tidak mempertuhankan Yesus. Orang Kristen mengimani Yesus sebagai Tuhan yang datang ke dunia dalam wujud manusia, karena memang demikianlah adanya. Dan lagi, apa yang dilakukan Yesus ketika Dia berada di dunia, memperkuat hal itu.
Misalnya, perhatikanlah perkataan Yesus berikut ini, “Lalu Ia [Yesus] berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni” (Injil, Rasul Lukas 7:48). Adakah manusia yang berkuasa mengampuni dosa seseorang? Bukankah hanya Tuhan yang berhak mengampuni dosa?
Sdr. Gunanto, ibarat pepatah berkata “tidak kenal, maka tak sayang.” Sdr berkata Yesus bukan Tuhan, karena sdr belum mengenal Dia. Jika sdr mau membuka hati dan membaca tentang kehidupan Yesus dalam Kitab Suci Injil, maka sdr akan mengenal siapa Dia sebenarnya.
~
Saodah
~
Staff yang baik hati,
Tolong dong jelaskan bahwa Kristen tidak mengenal dosa warisan dan penebusan dosa sesuai dalil Yehezkiel 18:20, Ulangan 24:16, Matius 16:27, Yeremia 31:29-30, II Tawarikh 25:24.
Saya khawatir dengan teman saya yang bersikukuh mengatakan ada dosa waris dan penebusan dosa, walaupun saya sudah terangkan alasan hukum dan dalil-dalilnya.
Tolong saya.
~
Saudara Amuba,
Maaf, pertanyaaan saudara sudah keluar dari topik artikel yang sedang dibahas. Tapi saudara tidak perlu khawatir, kami akan menjawab pertanyaaan sdr di atas, dan mengirimkan jawabannya langsung ke email saudara.
Saran kami, dalam memberi komentar, kiranya komentar yang diberikan hanya menanggapi artikel yang ada. Atau setidaknya menjawab salah satu dari tiga pertanyaaan yang sudah diberikan.
Demikian, kiranya saudara maklum adanya. Terimakasih!
~
Saodah
~
Yang dimaksud jalan adalah “jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka (para Nabi, orang-orang yang shiddiq/jujur dan benar, para pejuang Islam yang mati syahid dan orang-orang salih) Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya adalah kaum Yahudi dan semacamnya), dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat (Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya adalah orang-orang Nasrani dan semacamnya).
~
Saudara Hasan,
Setahu kami, dalam bahasa asli Al-Quran, kalimat yang sdr tulis dalam kurung di atas tidak terdapat dalam bahasa aslinya. Kalimat tersebut hanyalah penambahan.
Jadi, pertanyaan kami: Umat Islam percaya bahwa Al-Quran adalah firman Allah. Pantaskah manusia menambah firman Allah tersebut? Sebenarnya siapakah yang sudah merubah isi kitab sucinya. Orang Kristen, atau?
~
Saodah
~
Itu tafsirnya. Itu juga belum lengkap. Umat Islam harus menafsirkan Al-Quran dari penjelasan Nabi Muhammad.
Dan yang paling banyak hafal dan mengerti Al-Quran dan hadits adalah para ulama terdahulu yang sudah terkenal keilmuannya dan ketaatanya di seluruh dunia hingga saat ini.
Contoh kitab tafsir yang ditulis oleh para ulama terkenal adalah: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Jalalain, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir At Tobari.
~
Saudara Hasan,
Menambah dengan menafsirkan adalah dua hal yang berbeda. Menurut kami, apa yang tertulis dalam kurung pada ayat yang sdr kutip sebelumnya, bukan merupakan tafsiran. Tapi penambahan kata.
Atas dasar apakah para penafsir itu mencantumkan kata “Yahudi” pada ayat tersebut? Bagaimana bila maksud Allah bukan bangsa Yahudi tapi bangsa lain? Bukankah pada zaman awal Islam berdiri sudah banyak bangsa-bangsa di muka bumi ini?
Dan lagi, bagaimana mungkin para penafsir itu menyebut orang Nasrani sebagai orang yang tersesat? Bukankah di muka bumi ini ada agama lain selain Nasrani?
Jadi, menurut kami inilah salah satu kelemahan dari Al-Quran yang wajib ditulis dalam bahasa Arab. Sehingga, setiap penafsir boleh menafsirkan ayat tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Dan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Arab, hanya dapat mengaminkan sesuatu yang bukan berasal dari Tuhan. Tapi dari hasil penafsiran manusia.
~
Saodah
~
1. Ya, dengan ilmu teologi saya sudah mempelajari Alkitab (kitab sebelum Al-Quran) dan banyak tambahan/perselisihan dan salah memahami makna ayat.
2. Di antara buktinya:
– Konsep penebusan dosa tidak dikenal, bahwa setiap manusia/individu bertanggung jawab atas segala perbuatannya, ilmiahnya (Yehezkiel 18:20), (Ulangan 24:16), (Matius 16;27), (Yeremia 31:29-30), (II Tawarikh 25:4).
– Konsep nubuat tentang keberadaan nabi terakhir yang sangat penting artinya untuk kesempurnaan ajaran Tuhan kepada manusia di muka bumi ini. Di antara ilmiahnya (Kejadian 49:1,10), (Matius:42-43), (Hubakuk 3:3 Ulangan 33:1-3), (Yesaya 29:12), (Yesaya 42:1-4), (Yesaya 42:1-4), (Yohannes 16:7,1,5); (Yeremia 28:9) dll.
Salom, masih banyak yang perlu dijelaskan namun kolomnya sempit.
~
Terimakasih Sdr. Sopar Hutabarat untuk usaha sdr menjawab dua di antara tiga pertanyaan yang kami sampaikan. Berikut tanggapan dari kami:
1. Menurut sdr dalam Alkitab terdapat banyak ayat tambahan/perselisihan. Dapatkah sdr menyebutkan salah satu diantaranya?
2. Tentang konsep penebusan dosa, dapatkah sdr menjelaskan bagaimana konsep dosa diampuni menurut ayat-ayat yang sdr kutip tersebut?
3. Berdasarkan ayat-ayat yang sdr kutip di atas. Jadi menurut sdr siapakah nabi terakhir yang dinubuatkan itu?
~
Saodah
~
Kita tuntaskan dulu point 1. Banyak perselisihan namun kita tetap berpedoman kepada Alkitab ya.
Sebagimana ilmu teologia Kristen yang saya pelajari.
– Siapakah kakek Yesus?
Selisih tidak antara jawaban Injil Matius 1:6 dan Injil Lukas 3:31? Coba berfikirlah dengan hati. Saya Kristen murni ditempa dengan ilmu teologi yang tepat. Masih banyak perselisihan yg lainnya. ini satu diantaranya.
~
Saudara Sopar,
Jika sdr mempelajati Teologia Kristen dengan benar, terlebih sdr seorang Kristen murni, seharusnya sdr dapat melihat dengan gampang bahwa kedua ayat tersebut tidak ada perselisihan.
Jadi, menurut saya jawaban antara Injil Matius 1:6 dengan Injil Lukas 3:31 tidak ada yang selisih. Inilah penjelasan untuk hal itu: Memang benar kakek Yesus yang ditulis oleh Matius dan Lukas berbeda. Karena Matius mengikuti garis keturunan Yusuf (ayah Yesus secara hukum), melalui Salomo, anak Daud. Sementara Lukas mengikuti garis keturunan Maria (keluarga Yesus secara darah), melalui Natan, anak Daud.
Sdr. Sopar, tentu kakek dari garis keturunan ibu, berbeda namanya dengan kakek dari garis keturunan ayah, bukan? Apakah hal ini wajar atau tidak menurut sdr?
Saran kami, sebelum Sdr. Sopan mengatakan satu ayat berselisih dengan ayat lain, ada baiknya sdr menyelidiki terlebih dahulu ayat tersebut.
~
Saodah
~
Bisa jadi yang Anda jelaskan benar, hanya saya minta penjelasan yang Anda sampaikan bisa dibuktikan. Pada Injil mana yang menerangkan Matius mengambil dari ayah, dan Lukas mengambil dari turunan ibu? Agar diskusi ini tidak jadi pepesan kosong. Saya tunggu ayatnya.
~
Saudara Sopar,
Maaf kami menghapus pertanyaan sdr yang kedua. Supaya diskusi ini focus, mari membahas satu per satu.
Sdr. Mengatakan bahwa sdr adalah seorang Kristen murni, yang belajar teologi Kristen yang baik. Dari pernyataan sdr ini kami menyimpulkan bahwa sdr sudah membaca Alkitab secara keseluruhan. Sehingga seharusnya sdr sudah mengerti tentang silsilah Yesus. Lain hal, bila pengakuan sdr tersebut hanyalah pepesan kosong semata.
Yang menerangkan Matius mengambil silsilah Yesus dari ayahnya, adalah Injil Matius. Sedangkan yang menerangkan silsilah Yesus berdasar ibunya adalah Injil Lukas. Jadi, silakan sdr membaca kedua Injil tersebut dengan seksama. Dengan pikiran yang benar untuk mencari kebenaran, bukan dengan kebencian sehingga hanya bertujuan mencari cela.
~
Saodah
***
Jawaban no.1
Saya hanya sedikit tahu mengenai perbandingan kitab-kitab lain terutama kitab samawi sebelum Al-Quran. Setelah membacanya ternyata ada kesesuaian antara kitab-kitab tersebut, yaitu menjadi pedoman untuk diambil hikmahnya dalam wahyu-wahyu yang ada dalam kitab-kitab tersebut. Cerita-cerita masa lalu mengenai Israel (dalam Taurat dan Injil) dan bani Israil (dalam Al-Quran), serta kisah-kisah lainnya, pada perinsipnya membuka diri kita untuk bisa dekat dengan Sang Pencipta. Hanya saja sekarang persepsi mengenai ayat-ayat yang samar menjadi perselisihan.
Jawaban no.2
Hanya Allah yang tahu. Tapi saya berkeyakinan bahwa kitab yang satu dengan kitab yang lain saling berhubungan dan saling melengkapi mengenai siapakah Allah itu.
***
Sdr. Guns,
Terimakasih untuk kesediaan Anda menjawab dua dari tiga pertanyaan fokus artikel. Berikut tanggapan kami.
1) Apakah sejauh ini Anda benar-benar membaca Taurat hingga Injil (Alkitab), atau sekedar membaca risalah yang disarikan oleh ulama? Dalam kitab Taurat, pengampunan atas dosa baru Allah berikan setelah umat-Nya mempersembahkan korban binatang (domba, lembu) sebagai penebus salah. Apakah ayat-ayat ini sudah Anda baca dan cermati? Juga, kitab Injil menuliskan tema yang sama, yaitu pengorbanan Isa Al-Masih sebagai korban yang sempurna bagi pengampunan dosa manusia. Nah, apakah yang tertera dalam Taurat dan Injil ini disinggung juga dalam Al-Quran? Bukankah justru Al-Quran menyangkalnya? Bahakan malah menawarkan alternatif lain bagi pengampunan dosa, yaitu dengan amal saleh? Jadi, di mana letak kesesuaian Taurat – Injil dengan Al-Quran?
2) Mari kita telaah asumsi Anda (“… saling berhubungan dan saling melengkapi mengenai siapakah Allah itu”). Baik penganut Alkitab maupun Al-Quran percaya sifat Allah Maha Murah dan Maha Penyayang. Rahmat pengampunan-Nya atas dosa tidak diperjualbelikan karena terlalu berharga, tidak mampu dibeli oleh siapapun. Alkitab menyatakan bahwa pengampunan Allah (anugerah terbesar) diberikan secara gratis lewat pengorbanan Isa Al-Masih yang menggantikan hukuman dosa kita. Sedangkan Al-Quran mengajarkan amal ibadah untuk mengharap (mudah-mudahan bisa menukar/membeli) rahmat pengampuanan-Nya. Jelas Alkitab dan Al-Quran tidak menggambarkan sifat yang sama dari Allah, bukan?
~
Yuli
***
Jawaban no.3
Saya mempercayai Nabi Isa sebagai jalan keselamatan menuju Allah, sama halnya dengan nabi-nabi lainnya, dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Itulah salah satu bentuk keimanan saya kepada Allah, yaitu mempercayai nabi dan rasul Allah. Tetapi saya tidak mempercayai kalau Isa adalah Tuhan.
***
Sdr. Guns,
Menurut Anda, siapakah sumber keselamatan manusia? Apakah ada selain Allah? Bukankah hanya Allah yang berkuasa merahmati pengampunan dosa dan keselamatan? Maka, mari pertimbangkan lebih jauh firman Isa Al-Masih berikut:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (InjilYohanes 14:6).
1) Apakah yang disebut “jalan” hanyalah petunjuk arah, atau orang yang menunjukkan arah? Tidak, bukan? “Jalan” adalah sesuatu yang ditapaki, benar-benar menghubungkan kita kepada tujuan. Apakah Muhammad [u]pasti[/u] membawa Anda sampai kepada Allah? Bukankah nabi Anda pun tidak tahu masa depan akhiratnya (Qs 46:9)?
2) Siapakah Sumber Kebenaran selain Allah? Saat Isa menyatakan diri-Nya “Kebenaran”, tentu Isa sedang menyatakan diri-Nya Allah, bukan?
3) Siapakah Sumber Hidup? Maka saat Isa menyatakan diri-Nya “Akulah … hidup”, apakah kita sedang menganggap Isa menghujat Allah karena menyamakan diri-Nya dengan Allah? Faktanya, bukankah Al-Quran sendiri mengakui Isa itu suci tanpa dosa (Qs 19:19)?
~
Yuli
Jawaban no.3
Saya mempercayai Nabi Isa sebagai jalan keselamatan menuju Allah, sama hal nya dengan Nabi-nabi lainnya dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw. Itulah salah satu bentuk keimanan saya kepada Allah yaitu mempercayai Nabi dan Rasul Allah. Tetapi saya tidak mempercayai kalau Isa adalah Tuhan, karena tidak ada Tuhan yg lain selain Allah SWT
~
Tidak seorangpun datang kepada Bapa (Allah) tidak melalui Aku ini kata Yesus. Artinya:
1. Di luar Yesus orang tidak datang kepada Allah yang benar-benar Allah (Bapa).
2. Yesus adalah Pokok dan pusat dari semua akan Jalan ke Sorga/ menuju Allah, kebenaran, hidup kekal (hidup berkualitas sorgawi.)
3. Yesus menyatakan Diri-Nya selevel dan Satu dengan Allah.
4. Berarti hanya Yesus dan lewat Yesus Allah yang benar dinyatakan.
5. Tidak ada pengenalan akan Allah yang benar dan tidak ada keselamatan di luar Yesus.
Dalam Alkitab kalau para nabi menyampaikan firman selalu berkata: “Demikian firman Tuhan”. Kalau malikat juga mmberitahu firman/pesan yang disampikan berasal dari Tuhan. Tapi beda dengan Yesus, selalu berkata: “Aku berkata…”.
~
Saudara Abas,
Yesus/Isa Al-Masih menyatakan dengan tegas bahwa Ia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Seharusnya kita semua bisa melihat kuasa dibalik ucapan Yesus. Sebab tidak pernah ada nabi lain yang pernah berkata eperti Yesus. Hanya Allah saja yang dapat membawa manusia pada surga, sumber kebenaran dan Pemberi hidup kekal.
Benar sekali bahwa setiap perkataan dan perbuatan Yesus berkuasa dan kuasa itu berasal dari dalam diri-Nya sendiri. Sebab Isa adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Isa bagian dari diri Allah.
~
Noni