Saya ingin tahu bagaimana cara menyembah Allah yang benar! Ini adalah kerinduan dalam hati saya. Karena selama ini saya melakukan banyak aturan agama, namun hati saya tetap gelisah.
Saya jarang melihat pertolongan Allah dalam hidup dan belum mendapatkan jaminan selamat di akhirat.
Kerinduan mengetahui cara menyembah Allah yang benar muncul sejak remaja. Ada perjalanan panjang sampai akhirnya saya menemukan jawaban dan mendapat kedamaian hati.
Saya ingin membagikan kisah ini kepada Anda para Pembaca. Agar kita semua mendapatkan cara menyembah Allah yang benar.
Cara Menyembah Allah yang Saya Ketahui
Memang ada banyak aturan ibadah yang saya ketahui perlu dilakukan. Semua ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sebagai contoh dari kecil saya diajar oleh orang tua untuk sholat. Dalam 
Saat bulan Ramadhan saya dan keluarga berpuasa. Kami harus menahan lapar dan haus walau suhu udara sangat panas.
Sebagai Muslim di Timur Tengah keluarga saya sangat taat menjalankan peraturan agama. Kami sebagai anak-anaknya diharapkan mengikuti semuanya tanpa cela.
Jika saya batal puasa maka orang tua akan menjadi sangat marah. Ayah akan memukul saya dengan keras berkali-kali.
Akhirnya saya menjadi terbiasa melakukan semua rutinitas agama. Pada pemahaman saya saat itu, inilah cara menyembah Allah yang benar.
Termotivasi untuk Menyembah Allah
Karena didikan orang tua membuat saya termotivasi beribadah. Demikian juga karena suasana lingkungan kampung halaman saya.
Saya ingin memahami cara menyembah Allah yang benar. Tujuannya agar mendapat berkah dan surga-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjuanglah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (Qs 5:35).
Karena itu saya berusaha rajin beribadah. Jika ada khilaf, maka saya marah dengan diri sendiri dan merasa sangat bersalah.
Cara Menyembah Allah Penuh Tantangan
Namun makin saya lakukan, makin terasa menyulitkan. Banyak sekali peraturan detail yang harus saya ikuti seumur hidup.
Misalnya saat berwudhu dan sholat. Jika seseorang buang angin, maka ibadahnya batal. Ia harus mengulangi semua itu dari awal.
Atau bagi pasangan yang telah menikah. Jika selesai bersetubuh maka perlu mandi dengan ritual tertentu. Jika tidak akan dianggap kotor dan tidak bisa sholat.
Lebih banyak lagi syarat cara menyembah Allah untuk kaum wanita. Misalnya haid adalah kotoran.
Sehingga saat menstruasi wanita tidak bisa shalat apa lagi menyentuh Al-Quran. Dalam banyak tradisi bahkan keluarganya tidak boleh tahu. Sehingga ketika puasa, dia harus tetap bangun pagi untuk sahur.
Terlebih lagi setiap Muslim rindu menunaikan ibadah haji. Keluarga saya harus menabung sangat lama untuk akhirnya pergi ke Makkah.
Saat di Makkah saya terkejut. Saya gelisah melihat begitu banyak orang berdesakan mendekat pada Ka’bah. Juga saling berebut untuk mencium Batu Hitam.
Saat itulah terbersit pertanyaan dalam benak saya. “Apakah ini adalah cara menyembah Allah yang benar?”
Menyembah Allah Tanpa Jaminan Akhirat?
Puncak kegelisahan saya adalah saat memperdalam agama. Saya menemukan berbagai dalil yang menarik.
Misalnya Al-Quran menyatakan bahwa setiap dosa pasti ada hukumannya. Bahkan dosa terkecil sekalipun akan Allah balas.
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (Qs 99:8).
Kita sebagai manusia tidak pernah mengetahui keadaan di akhirat. Karena kita tidak tahu penilaian Allah.
Saya pernah membaca Hadist bahwa keadaan Fatimah saja tidak terjamin di akhirat. Padahal ia adalah anak terkasih Nabi Islam. Ia juga sangat setia menyertai dalam berbagai peperangan.
“. . . Wahai ibunda Az Zubair . . . bibi Rasulullah, wahai Fathimah binti Muhammad belilah jiwa-jiwa kalian berdua (peliharalah) dari siksa Allah. Aku tidak berkuasa melindungi kalian berdua di hadapan Allah sedikit pun . . .” (Shahih Bukhari 3264).
Keadaan inilah yang membuat saya frustrasi. Jika hal ini terjadi pada Fatimah, terlebih lagi kepada saya yang hanya manusia biasa.
Mencari Cara Menyembah Allah yang Benar
Selanjutnya kehidupan saya berubah sangat ekstrim saat ada perang antar suku. Hal ini menyebabkan kami sekeluarga mengungsi. Beberapa tahun kemudian kami pun pindah dan tinggal di negara Asia.
Di negara baru ini, saat berkunjung ke rumah teman, saya menemukan majalah. Saya melihat ada artikel menarik. Judulnya, “Inilah cara menyembah Allah yang benar!”
Pertama-tama artikel itu menyatakan bahwa ibadah yang benar berasal dari hati. Dan bukan sekadar tindakan lahiriah.
“. . . mengapa kamu harus hidup . . . tunduk pada bermacam-macam peraturan seperti, ‘Jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini?’ Semua itu hanya berkaitan dengan hal-hal yang akan lenyap setelah dipakai, dan hanya menurut hukum-hukum serta ajaran manusia. Memang peraturan-peraturan itu nampaknya sangat bijaksana disertai ibadah yang dibuat sendiri, yaitu merendahkan diri dan menyiksa diri. Akan tetapi, semua itu tidak ada gunanya, selain untuk memuaskan hawa nafsu manusia” (Injil, Surat Kolose 2:20-23).
Hal ini sangat menampar hati saya. Selama ini yang saya ketahui hanyalah berusaha menaati peraturan jasmani saja.
Cara Menyembah Allah yang Benar dengan Hati Bersih

“. . . hai orang-orang yang munafik! Kamu hanya membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, sedangkan bagian dalamnya penuh dengan rampasan dan ketamakan . . . Bersihkanlah lebih dahulu bagian dalam dari cawan itu maka luarnya pun akan menjadi bersih . . . Bagaimana kamu dapat melepaskan diri dari hukuman neraka?” (Injil, Matius 23:25-26, 33).
Sekali lagi saya merasa tersentuh. Namun saya mengakui bahwa sulit manusia mencapai hati yang bersih.
Akhirnya saya membaca seluruh artikel tersebut. Lalu saya juga bertanya kepada teman saya, apa maknanya.
Artikel itu membahas ajaran Isa Al-Masih. Terambil dari Kitab suci Taurat, Zabur dan Injil.
Teman saya menjelaskan bahwa usaha manusia untuk menyembah Allah terbatas. Kita penuh khilaf. Sedangkan banyak sekali peraturan dalam agama. Terlebih lagi kita pasti memiliki dosa. Sedangkan Allah adalah Maha Suci.
Karena itu, cara menyembah Allah yang benar dimulai dari Allah. Ia menjelma menjadi manusia. Lalu Ia mengampuni dosa dan mengubah hati manusia.
Dengan demikian kita bisa mendapat hati yang baru. Hati yang bersih. Sehingga bisa menyembah-Nya dengan benar.
Melalui Isa Kita Menyembah Allah yang Benar
Dalam hal ini, Isa Al-Masih adalah jelmaan Allah dalam wujud manusia. Isa mengajarkan kebenaran. Pengorbanan Isa di kayu salib adalah untuk menanggung hukuman dosa manusia.
“Isa Al-Masih telah menyerahkan diri-Nya demi kita untuk menebus kita dari segala kejahatan dan untuk menyucikan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri yang rajin berbuat baik” (Injil, Surat Titus 2:14).

Selanjutnya cara menyembah Allah yang benar dengan mengikuti ajaran Isa. Bahwa Ia memberi panduan kehidupan manusia yang berasal dari perubahan hati. Sehingga manusia mendapat ampunan Allah. Kita juga mendapat bimbingan-Nya dan jaminan surga di akhirat.
Mari Menyembah Allah dan Mendapat Surga-Nya!
Memang semua informasi ini terasa asing bagi saya saat itu. Namun saya telah lama lelah mencoba mengikuti semua peraturan agama. Dan saya jelas tidak mampu, ada banyak khilaf dan salah.
Karena itu saya mulai melihat cara menyembah Allah yang benar. Rupanya dengan mengimani jalan lurus-Nya melalui Isa Al-Masih.
“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran [melalui Isa Al-Masih]” (Injil, Yahya 4:24).
Saya menceritakan kisah hidup saya untuk menolong para pembaca. Saya yakin ada banyak orang yang juga rindu menemukan cara menyembah Allah yang benar.
Saya menemukannya dengan mengimani Isa dan mengikuti ajaran-Nya. Maukah Anda juga mendapatkan keselamatan Allah? Mari mengimani Isa sekarang!
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Kisah Pemuka Agama & Preman: Masuk Surga Bukan Karena Amal
- Amalan Tambahan Ramadhan Tidak Menjamin Kepastian Surga
- Bagaimana Ibadah Yang Sempurna Agar Pasti Allah Terima?
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Apa yang mendorong sehingga ada sebagian orang sampai melakukan berbagai cara, termasuk cara yang tidak benar, agar dapat pergi naik haji? Apakah praktik ini dapat dikatakan sebagai cara menyembah Allah yang benar?
- Menurut saudara, bagaimana cara menyembah Allah yang benar dan berkenan kepada-Nya?
- Menurut saudara, apakah Allah tidak akan berkenan bila saat kita menyembah-Nya, kita kurang memperhatikan hal-hal eksternal, seperti cara berpakaian, membersihkan bagian tubuh tertentu, dll? Sebutkan alasannya!
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel “Islam dan Kristen, Cara Menyembah Allah Yang Benar”, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau WA/ SMS ke: 0812-9530-4930

~
Hai Staff Isa dan Islam Nasrani:
Tuhan kalian = Allah yang Esa. Allah yang Esa= Bapa (sosok), Yesus (Firman) dan Roh Kudus (Roh). Bapa (sosok) = Tuhan kalian. Yesus (Firman) = Tuhan kalian. Roh Kudus (Roh) = Tuhan kalian.
Berapa jumlah Tuhan kalian, kalau tidak mau dikatakan Tuhan kalian berjumlah tiga, dan mana yang menyelamatkan?
~
Saudara Usil,
Terima kasih atas komentar saudara. Namun maaf kami tidak dapat memberi jawaban atas pertanyaan Sdr. Usil di sini. Karena tidak berkaitan dengan artikel dan pertanyaan-pertanyaan kami di atas.
Namun jangan berkecil hati. Saudara dapat menemukan jawaban dari pertanyaan saudara di link ini http://tinyurl.com/kqv4ebc Bila ada yang ditanyakan atau ingin berdiskusi lebih inten silakan email kami di [email protected]
Kiranya Sdr. Usil menemukan pemahaman baru dan mengenal Allah yang kami sembah.
~
Daniar
~
Salah satu ajaran agama Islam yang tidak masuk akal.
Coba renungkan: ada seseorang yang untuk membiayai hidupnya saja susah, ditambah lagi kondisi fisik yang terbelakang. Namun dia rindu untuk datang beribadah serta memuji Allah dengan segenap hati.
Apakah dia harus membatalkan niatnya tersebut hanya karena dia tidak mampu untuk umroh dan naik haji? Ironis bukan?
~
Saudara Jibril_is_jin,
Bila direnungkan memang tidak masuk akal. Masakkah Allah hanya memberi kesempatan bagi yang kaya saja untuk beribadah dan datang kepada-Nya?
Saudaraku, Alkitab ajarkan kita dapat beribadah kepada Allah di mana saja. Dimana kita berdoa, disitu ada Allah. Kita tidak perlu pergi jauh-jauh hingga ke negeri seberang untuk menemui Allah. Yang lebih indah lagi Roh Allah ingin bertempat tinggal di dalam diri tiap orang yang menerima Isa Al-Masih sebagai Juru selamat.
Nah, adakah yang rindu menjadi tempat tinggal Roh Allah?
~
Daniar
~
Yang disembah 24 nabi yang di Al-Quran berbeda dengan Tuhan yang disembah oleh nabi terakhir. Inilah tuhan yang disembah beliau: Qs. An-Naml : 91m “Aku (Muhammad) hanya diperintahkan menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang Dia telah menjadikan suci padanya dan segala sesuatu adalah milik-Nya. Dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang Muslim (berserah diri)”.
Dan bentuk penyembahannya tidak berubah sampai sekarang(murni) dan kamu pun sering melihatnya. Inilah Tuhannya 24 nabi di Al-Quran, ini dicatat di Al-Quran menyatakan bahwa peristiwa ini penting dari mulut seorang penyembah berhala Firaun mengakui kebesaran Tuhan sejati, baca Qs Yunus:90. Intinya tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil.
~
Saudara Syeikh AL Furqon,
Terimakasih atas penjelasan yang saudara berikan. Mengenal Allah yang benar itu adalah suatu keharusan yang teramat penting bagi setiap manusia. Karena jika tidak, nasibnya kekal selamanya dalam kegelapan Neraka.
Bagaimana dengan saudara, apakah saudara memiliki relasi dengan Allah yang benar? Atau selama ini saudara tidak merasakan adanya relasi secara langsung itu, melainkan mengetahui slogan-slogan tentang zat Allah itu saja? Bagi kami, sungguh kami memiliki relasi dengan Allah Pencipta itu seperti Bapa dengan anak. Suatu hubungan yang hangat dan nyata. Maukah saudara mengalaminya juga? Jika berkenan kita bisa berdiskusi bersama, silakan hubungi SMS/ WA 0812-9530-4930
~
Noni