Siapakah manusia yang mampu melakukan ibadah yang sempurna?
Mungkin kita berpikir orang ini adalah Mukmin yang banyak beribadah. Atau santri yang paling banyak menghafal ayat Al-Quran. Atau ulama yang pemahaman agamanya dalam.
Namun kenyataannya kita tidak pernah tahu. Karena kita manusia hanya melihat apa yang tampak di luar. Sedangkan Allah memperhatikan hati manusia.
Bisa saja orang-orang yang kita pikir baik, ternyata tidak demikian. Keadaan hatinya bisa berbeda dari penampilan luarnya.
Bahkan, mungkinkah semua manusia tidak akan mampu mendapat ibadah yang sempurna? Karena kita pasti berbuat banyak dosa.
Mari kita lihat bagaimana kita bisa melakukan ibadah yang sempurna, agar kita mendapat rahmat Allah untuk masuk surga.
Ibadah yang Sempurna dari Hati
Dalam satu pondok pesantren ada ustadz yang ditanya oleh para santrinya. Mereka ingin tahu bagaimana melakukan ibadah yang sempurna.
Para santri bertanya apakah mereka perlu lebih banyak menghafal ayat, berpuasa, atau sedekah. Namun jawaban sang ustadz sangat berbeda.
Ustadz menjawab bahwa ibadah yang sempurna berasal dari hati. Kita memang berusaha melakukan berbagai kebaikan, namun yang terutama Allah melihat hati.
“. . . rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian” (Shahih Muslim 4651).
Misalnya, jika ada seorang memberi sedekah namun dalam hatinya berisi kesombongan. Maka Allah tidak akan menerima sedekahnya, malah mungkin ia bisa kena hukuman.
Motivasi hati kita sangat berpengaruh. Bahkan bisa menentukan kehidupan kita di akhirat.
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji dari kesombongan” (Hadits Muslim No.133).
5 Cara Membersihkan Hati

Sebagai manusia kita penuh dosa dan kelemahan. Pasti banyak kesalahan dalam hati kita. Bahkan ada berbagai dosa tersembunyi, yang orang lain tidak ketahui.
Dalam hal ini agama memberikan beberapa cara untuk membersihkan hati. Mari kita lihat beberapa diantaranya.
- Melakukan taubat.
Hal terutama yang agama ajarkan adalah dengan menyadari dosa dan bertaubat. Setelah itu berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. - Melakukan dzikir (Qs 2:152)
Saran selanjutnya adalah dengan dzikir ayat-ayat Al-Quran. Tujuannya menjadi pengingat diri agar terhindar dari dosa. - Memperbanyak ibadah.
Seperti poin sebelumnya, umat juga diajak untuk melakukan ibadah. Hal ini bisa berupa sholat, puasa, mengikuti pengajian dan sebagainya. Dengan alasan yang sama bahwa semua hal ini bisa mengingatkan kita kepada Allah sehingga terhindar dari dosa. - Memperbanyak amal.
Selain itu umat diajar untuk melakukan amal. Contohnya dengan melakukan sedekah. Karena dipercaya amal bisa menutup dosa.
“. . . serta sedekah dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api . . .” (Sunan Tirmidzi 558). - Tabah dalam penderitaan.
Satu tambahan poin menarik adalah dengan tabah. Karena ada dalil yang mengatakan penderitaan bisa menghapus dosa dan kekotoran hati.
“. . . sesungguhnya sakit seorang Mukmin karena Allah menghilangkan dosa-dosanya sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak” (Hadits Abu Daud No.2688).
Mustahil Mendapatkan Ibadah yang Sempurna
Semua saran di atas terlihat baik. Namun sayang dalam kenyataannya kita menghadapi berbagai tantangan.
Pertama, ada begitu banyak hal yang hanya berfokus pada tindakan jasmani. Misalnya, memberi sedekah dan berpuasa.
Namun masalahnya tetap tidak menjamin perubahan hati. Berbagai tindakan jasmani tidak mampu mengubah hati dari dalam. 
Malah sebaliknya ada dalil yang mengatakan justru Allah tidak menerima semua amal ibadah tanpa hati yang murni.
“. . . Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas (murni) dan mengharapkan wajahNya” (Hadits Nasa’i No.3089).
Bisa saja di hadapan orang kita berbuat banyak kebaikan. Namun dalam hati tetap banyak kekotoran yang tersimpan.
Selanjutnya Al-Quran sendiri mengatakan bahwa memang manusia sangat ingkar (Qs 100:6). Sehingga ada banyak dosa yang kita perbuat selama hidup. Sulit untuk bertaubat dan tidak mengulangi dosa yang sama.
Terlebih lagi ada dalil yang tegas menyatakan, memang manusia tidak mungkin selamat karena amalannya.
“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka” (HR. Muslim no. 2817).
Jika demikian, bukankah mustahil kita mendapatkan ibadah yang sempurna? Kita tidak mampu membersihkan hati kita dari dosa.
Jalan Allah untuk Ibadah yang Sempurna

“. . . janganlah pandang rupanya atau perawakannya . . . Allah tidak melihat sebagaimana manusia melihat. Manusia melihat penampilan lahiriah, tetapi Allah melihat hati” (Taurat, 1 Samuil 16:7).
Dalam hal ini Allah mengetahui bahwa manusia penuh dosa. Ada banyak kekotoran dalam hati manusia. Tidak mungkin amal baik cukup untuk menutupinya.
Karena itu Allah menjelma menjadi manusia untuk menolong. Inilah Isa Al-Masih.
Isa datang mengajarkan kebenaran kasih Allah. Isa tersalib untuk menanggung hukuman dari dosa manusia.
Melalui Isa kita bisa mendapatkan penyucian hati. Melalui-Nya kita bisa memperoleh ibadah yang sempurna.
“Jikalau kita mengakui dosa-dosa kita [melalui Isa Al-Masih], maka Allah, yang dapat dipercaya dan benar itu, akan mengampuni dosa-dosa kita serta menyucikan kita dari semua kejahatan” (Injil, 1 Yahya 1:9).
Ibadah yang Sempurna dan Surga Melalui Isa
Jadi, ibadah yang sempurna rupanya adalah rahmat Allah. Hanya Dia yang mampu menyucikan hati dan membuat ibadah kita menjadi baik.
Caranya bukan dengan berusaha melalui berbagai tindakan. Namun dimulai dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Maka Allah akan mengubah hati kita menjadi baru. Hal ini akan membuat kelakuan kita berubah dari dalam. Yaitu karena berasal dari perubahan hati.
Selanjutnya Allah juga mengampuni semua dosa kita. Ia akan membimbing kita sampai masuk surga-Nya.
“. . . [Allah] mengaruniakan hati nurani yang murni melalui kebangkitan Isa Al-Masih . . . Karena itu, marilah kita mendekati Allah dengan hati yang benar dalam keyakinan iman yang penuh karena hati kita telah dipercik sehingga suci dari hati nurani yang jahat . . .” (Injil, 1 Petrus 3:21 dan Ibrani 10:21).
Manusia pasti tidak mampu mendapatkan ibadah yang sempurna. Jalan Allah menolong melalui Isa Al-Masih.
Maukah Anda mendapatkan ibadah yang sempurna? Mari mengimani Isa.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Inilah Ibadah Tertinggi Yang Pasti Allah Terima
- Inspirasi Teladan Ibadah Nabi Daud Bagi Mukmin
- Benarkah Menunaikan Ibadah Haji Dapat Menghapus Dosa?
Video:
Mencari Cara Ibadah Benar Agar Mengenal Allah
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Mengapa biasanya umat beragama lebih memperhatikan hal-hal jasmani ketika akan beribadah dibandingkan hal rohani?
- Selain hal-hal yang sudah disebutkan di atas, menurut saudara adakah hal lain yang menyebabkan Allah tidak berkenan pada ibadah kita? Sebutkanlah!
- Apakah saudara yakin bahwa setiap ibadah yang saudara lakukan berkenan di hadapan Allah? Sebutkan alasan saudara!
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda*****pada komentar-komentar yang kami merasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas.Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel “Pandangan Agama Terhadap Ibadah Yang Sempurna”, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS ke: 0812-9530-4930

~
Di dalam Islam tata cara beribadah sudah diajarkan semuanya. Sehingga Islam adalah satu-satunya agama yang ada di muka bumi bisa melakukan ibadah secara bersamaan dalam satu tempat dari negara manapun (sholat berjamaah)
Di Kristen seperti apa contoh beribadah yang diajarkan Yesus? Apakah menyuruh datanglah ke gereja hari Minggu bernyanyi dan bertepuk tangan?
~
Sdr. Pengikut Nabi Isa,
Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel di atas, bahwa Allah berkenan pada ibadah yang tulus. Artinya, ketika kita beribadah, Allah tidak berfokus pada: Apakah ibadahnya secara bersamaan atau tidak. Atau, apakah ketika beribadah gerakannya sama atau tidak, dll.
Yang menjadi prioritas Allah bukan apa yang kamu pakai, bagaimana posisi tubuhmu, atau seberapa bersih bagian-bagian tubuhmu ketika menyembah Dia. Tapi Allah melihat jauh ke dalam hati Anda.
Apa gunanya sdr beribadah dengan mengikuti 100% cara-cara yang sudah diajarkan, tapi hati sdr masih dipenuhi dengan dosa? Akankah Allah berkenan pada ibadah saudara?
~
Saodah
~
Admin,
Mengapa umat Kristen tidak mengikuti cara Isa Al-Masih beribadah, tapi malah mengikuti cara orang Romawi?
~
Sdr. Rizal,
Sebelumnya maaf karena beberapa komentar sdr kami hapus. Seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya, jika sdr memberi komentar, kiranya mengikuti aturan yang sudah ada.
Untuk pertanyaan sdr di atas, tentang cara Isa Al-Masih berdoa yang menurut sdr tidak diikuti oleh umat Kristen. Untuk itu, kami ingin bertanya kepada saudara.
1) Apakah sdr pernah membaca dalam Injil, tentang Isa Al-Masih mengajarkan kepada pengikut-Nya bagaimana harus beribadah? Dapatkah sdr memberitahu terdapat pada ayat mana Isa pernah mengatakannya?
2) Dapatkah sdr menjelaskan kepada kami, bagaimana cara orang Romawi berdoa?
Demikian dua pertanyaan dari kami. Kiranya sdr tidak keberatan untuk menjelaskannya. Terimaskasih!
~
Saodah
~
Matius 5:8 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”
~
Sdr. Djojoch,
Terimaskasih untuk kutipan firman Allah di atas.
Bagaimana cara mempunyai hati yang suci? Apakah dengan rajin ber-wudhu sebelum beribadah? Firman Allah berkata, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Kitab Nabi Yehezkiel 36:26).
Untuk mendapatkan hati yang suci, seseorang perlu menggantinya dengan hati yang baru. Hati yang sudah dikuduskan dengan darah Anak-Nya yang kudus, lewat kematian-Nya di atas kayu salib.
~
Saodah
~
Matius 26:39 “Maka Ia (yesus) maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Saya kutip semua agar tidak seperti Anda yang mengambil sepotong-sepotong. Mari kita kembali pada saat Nabi Adam baru diciptakan, Allah menyuruh ciptaannya sujud kepada Adam, Iblis menolak. Akhirnya Allah memvonisnya sebagai penduduk neraka jahanam. Yesus sujud, kenapa Anda harus mengikuti iblis?. Dajjal menawarkan sorga sebenarnya neraka dan sebaliknya.
~
Sdr. Eesho Msheekha,
Apakah dalam Matius 26:39 yang sdr kutip di atas, ada tertulis bahwa Yesus mengajarkan kepada pengikut-Nya, kalau berdoa harus sujud?
Memang benar dalam ayat tersebut dikatakan ‘Yesus sujud.’ Apakah karena Yesus sujud lantas sdr serta-merta mengartikan bahwa ayat tersebut perintah Yesus bagi pengikut-Nya agar selalu sujud saat berdoa? Bukankah itu hanya hasil pemikiran sdr saja?
Sdr. Eesho Msheekha, seperti yang kami katakan sebelumnya, bahwa esensi dari sebuah ibadah yang diajarkan oleh Yesus tidak terletak pada posisi tubuh. Melainkan pada hati!
Apalah artinya ibadah dengan posisi yang sempurna (menurut ukuran manusia), jika hati sdr penuh dengan kebencian? Apakah sdr pikir Allah akan berkenan dengan ibadah seperti itu?
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (Injil, Rasul Besar Yohanes 6:5).
~
Saodah
~
Ketulusan hati seseorang dalam berdoa adalah hal yang diperhatikan Allah, bukan gerakan-gerakan jasmani.
Lalu apa manfa’at gerakan sholat bagi Allah? Apa manfa’at amal ibadah manusia bagi Allah? Semua yang dikerjakan manusia di bawah matahari adalah kesia-siaan jika kita tidak percaya pada keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita. Isa Al-Masih yang dikirim Allah dari sisi-Nya untuk menyelamatkan kita.
~
Bapak/ibu yang terhormat,
Islam itu sudah ditetapkan tata cara ibadahnya (syariat) melalui ilmu fiqih. Semua nabi punya cara tersendiri beribadah. Anda bisa menggali dan mengetahui tata cara beribadah Nabi Isa dari Alkitab kalian, terserah versi yang mana (KJV / NV).
Cobalah anda liat video di youtube: Bart D Ehrmann. Beliau seorang ahli teologi Kristen + mantan pendeta yang berubah menjadi agnostik setelah belajar Alkitab selama 30 tahun.
Kesimpulan hasil penelitian beliau: Injil asli hanya sebesar kartu ATM yang berisi beberapa ayat. selebihnya kesalahan–kesalahan yang disalin ratusan kali yang diakui ditulis berdasarkan ilham Roh.
~
Saudara Ikhsan,
Seperti yang dipaparkan dalam artikel di atas Isa Al-Masih memberitahukan bahwa fokus utama saat hendak menyembah Allah adalah hati. Bukan tampilan luar/jasmani. Sebab Allah tidak berkenan pada ibadah seseorang yang hatinya kotor dengan dosa. Bagaimana dengan sdr, apakah fokus utama saat hendak menyembah Allah adalah hati? Silakan bagikan pengalaman saudara di sini!
Mengenai Alkitab silakan diskusikan di sini https://tinyurl.com/yde3dd9a.
~
Daniar