
Kita tentu rindu Allah menerima semua ibadah kita. Sehingga nantinya kita bisa mendapatkan surga di akhirat.
Mari kita lihat apa ibadah tertinggi manusia. Dapatkah kita melakukannya sehingga memperoleh surga Allah?
Ibadah Tertinggi Umat Islam
Dalam Islam ada berbagai peraturan dan ibadah yang perlu dilakukan. Mungkin Anda bertanya, jika demikian apa ibadah tertinggi atau ibadah terutama bagi seorang Mukmin.
Secara umum kita mengetahui berbagai ibadah dasar utama. Hal ini termasuk dalam rukun Islam. Antara lain sholat lima waktu, berpuasa, beramal dan menunaikan haji.
“. . . Rasulullah bersabda: ‘Shalatlah lima waktu, puasalah ramadhan, berhajilah ke baitullah, tunaikan zakat dengan hati rela niscaya kalian masuk surga’” (Musnad Ahmad 21230).
Namun dalam semua hal ini ada juga penekanan lainnya. Ada Hadits yang menjelaskannya, beberapa ulama mengambil hal ini sebagai dalil ibadah tertinggi.
“Aku pernah bertanya kepada Nabi: ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab: ‘Shalat pada waktunya.’ . . . ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ . . . Kemudian berjuang pada jalan Allah’ . . .” (Shahih Bukhari 496).
Jadi menurut Hadits ini, ibadah tertinggi adalah saat umat melakukan sholat dengan baik. Yaitu lima waktu setiap hari seumur hidup sebagai tanda ibadah yang tidak terputus.
Selanjutnya menunjukan akhlak baik. Terutama terlihat dalam sikap kepada orang tua.
Hal ini juga termasuk mendoakan orang tua setelah mereka meninggal. Maupun menanggung beban hutang puasa jika mereka belum memenuhinya.
Dan juga rela berkorban dalam ibadah. Bisa untuk berbagai hal, misalnya menegakan kebenaran dalam masyarakat maupun berjuang memberantas kemiskinan.
Menyempurnakan Ibadah Tertinggi

Contohnya saat sholat kita bisa berdoa: “Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in”. Terambil dari ayat ke lima Surah Al-Fatihah.
Ulama menjelaskan tujuannya untuk menyempurnakan ibadah agar dapat diterima bahkan mencapai tingkat tertinggi (Tafsir Al-Mishbah, hal.67).
Lalu selain sholat kita perlu selalu berusaha mengingat Allah. Yaitu dalam keseharian kita, saat kita duduk, dalam perjalanan dan sebagainya (Qs 4:103).
Juga ada saran lain dalam mencapai ibadah tertinggi, yaitu dengan sikap rela menerima takdir. Dengan demikian apapun keadaan yang kita alami, maka kita tidak menyalahkan Allah.
Memang semua hal ini baik. Namun apakah kita mampu melakukan semuanya?
Bagaimana Jika Tidak Mampu Melakukannya?
Kita sebagai manusia tidak sempurna. Kita sangat lemah. Kita bisa bolong sholat dan juga bisa batal puasa.
Selain itu ibadah dan amalan kita tidak sempurna. Ada banyak dalil Allah menolak berbagai ibadah manusia. Mari kita lihat beberapa diantaranya
- Allah tidak menerima sholat dari orang yang tidak suci (Shahih Ibnu Khuzaimah 8).
- Allah hanya menerima korban dari orang takwa (Qs 5:27).
- Allah tidak menerima amalan jika tidak ikhlas (Hadits Nasa’i No.3089).
- Allah tidak menerima amalan orang yang memutuskan hubungan silaturahim (Hadits Ahmad No.9883).
Dalam kondisi seperti ini, bagaimana kita bisa yakin amalan kita pasti Allah terima? Mungkin saja ada banyak tindakan atau motivasi hati kita yang tidak baik dalam pandangan Allah.
Sulit Mendekat Kepada Allah yang Maha Suci

Hal ini seumpama suatu noda pada baju putih, pasti akan terlihat dengan jelas.
Seperti seorang karyawan yang memiliki seragam kemeja putih, satu saat ia terkena cipratan lumpur dan kotoran di jalan raya. Ia sudah berusaha mencucinya dan membersihkan sebisanya. Namun sayang ada satu dua noda yang tetap terlihat. Alhasil ia mendapat teguran atasannya.
Demikianlah dosa-dosa manusia di hadapan Allah. Kita berusaha hidup baik. Juga berusaha menutup dosa dengan amal dan ibadah.
Namun tetap saja lebih banyak dosa yang kita perbuat. Pasti akan ada noda yang terlihat oleh Allah. Dalam kesucian-Nya yang sempurna dosa manusia pasti akan jelas.
Jika demikian manusia tidak mungkin bisa mencapai ibadah tertinggi. Apalagi masuk surga Allah yang maha Suci. Adakah jalan kita bisa memperolehnya?
Ibadah Tertinggi dari Hati
Kitab Allah yaitu Taurat, Zabur dan Injil memberikan petunjuk mengenai bagaimana kita sebagai manusia bisa beribadah dengan benar.
Rupanya, dasarnya bukan dengan berbagai peraturan yang kita lakukan. Karena kita pasti tidak sempurna dalam melakukannya.
“. . . mengapa kamu harus hidup . . . tunduk pada bermacam-macam peraturan seperti, ‘Jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini?’ Semua itu hanya berkaitan dengan hal-hal yang akan lenyap setelah dipakai, dan hanya menurut hukum-hukum serta ajaran manusia. Memang peraturan-peraturan itu nampaknya sangat bijaksana disertai ibadah yang dibuat sendiri . . . Akan tetapi, semua itu tidak ada gunanya, selain untuk memuaskan hawa nafsu manusia” (Injil, Kolose 2:20-23).
Dasar ibadah terutama adalah dari hati manusia. Allah justru memberi teguran kepada orang yang secara jasmani terlihat beribadah, namun dalam kenyataannya hatinya penuh dosa.
Kitab Allah memberi petunjuk sikap hati yang Allah senang. Yaitu manusia yang mau taubat.
“Sebab Engkau tidak menghendaki amal ibadah lahiriah. Amal ibadah kepada Allah ialah jiwa yang hancur. Hati yang hancur dan remuk tak akan Kau pandang hina, ya Allah” (Zabur 51:18-19, parafrasa).
Mendapatkan Hati yang Baru

Hal ini seperti baju kemeja putih yang telah kotor. Karyawan itu bukan sekadar mencuci baju lama, melainkan ia mendapat baju baru yang sangat bersih.
Demikianlah hanya Allah yang mampu mengubah hati manusia. Sehingga kita bisa memiliki hati baru yang bersih (Taurat, Yehezkiel 11:19-20).
Dengan hati yang baru maka kita bisa berubah dari dalam. Kita bisa menjadi baik sehingga mau berbuat baik.
Inilah yang menjadi dasar kita, bisa ibadah tertinggi kepada Allah dengan benar. Allah yang memampukan kita untuk berbuat baik. Jadi bukan sekadar dari usaha kita saja.
“Kita diajarnya untuk menjauhi perbuatan-perbuatan sesat . . . lalu hidup secara bijak . . . [melalui] Penyelamat kita, yaitu Isa Al-Masih . . . Isa Al-Masih telah menyerahkan diri-Nya demi kita untuk menebus kita dari segala kejahatan dan untuk menyucikan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri yang rajin berbuat baik” (Injil, Titus 2:12-14).
Ibadah Tertinggi Memberi Kepastian Surga
Allah mau memberikan hati yang baru kepada manusia melalui Isa Al-Masih. Karena Isa adalah penjelmaan Allah dalam wujud manusia. Isa lahir dari Ruh Allah dan adalah Kalimatullah.
Karena itu, inilah dasar ibadah tertinggi. Bermula saat kita mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih. Maka Allah akan mengampuni dosa. Ia juga akan memberikan kita hati yang baru.
Selanjutnya kita bisa belajar beribadah kepada Allah dengan benar. Akhirnya Allah juga memberikan kepastian surga.
Maukah Anda mengikuti ibadah tertinggi? Mari mengimani Isa Al-Masih.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Inspirasi Teladan Ibadah Nabi Daud Bagi Mukmin
- Benarkah Menunaikan Ibadah Haji Dapat Menghapus Dosa?
- Mustahil Sedekah Memadamkan Murka Allah! Bagaimana Solusinya?
Video:
Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Mengapa ibadah dalam agama Islam lebih menitik-beratkan kepada tata cara yang berhubungan dengan hal-hal jasmani?
- Menurut saudara, apakah Allah berkenan kepada ritual ibadah tertinggi sekalipun, jika seseorang yang di dalam hatinya menyimpan amarah, kebencian, iri hati terhadap sesamanya? Jelaskan alasan saudara!
- Apakah saudara setuju bahwa pahala berkuasa membersihkan hati dari dosa? Jelaskan alasan saudara!
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini. Atau SMS ke: 0812-9530-4930

~
1. Tidak juga sholat juga harus khusyuk (khusyuk browsing aja di google).
2. Tidak tahu, karena yang menerima Allah swt kita.
3. Tidak, karena yang membersihkan hati dari dosa adalah taqwa.
~
Saudara Rheinmetall,
Terima kasih sudah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami.
1. Boleh kami tahu, apa yang saudara lakukan agar sholat khusyuk?
2. Aneh, saudara dapat menjawab pertanyaan no.1 tapi tidak no. 2 mengapa? Lalu ibadah yang selama ini saudara lakukan bagaimana?
3. Bagaimana tagwa dapat membersihkan? Bukankah ibadah yang saudara lakukan saja saudara tidak tahu berkenan atau tidak?
Silakan memberikan tanggapan kembali. Senang dapat berdiskusi dengan Sdr Rheinmetall.
~
Daniar
*****
1. Pandangan anda tentang tatacara kurang pas. Sebetulnya bukan tentang tatacara. Gerakan sholat adalah petunjuk agar manusia bisa memahami, bahwa shalat adalah cara awal untuk bisa menjalani kehidupan dengan nyaman, tenang dan bahagia.
2. Allah tidak butuh ibadah (penghambaan) kita, tetapi kita yang membutuhkan. Manusia yang di dalam hatinya terdapat sifat-sifat tersebut bukanlah seorang hamba Allah.
3. Pahala = kebahagiaan. Orang yang sedang berbahagia mutlak tidak berdosa
*****
Saudara Asep Sulaiman,
Terima kasih telah menjawab pertanyan-pertanyan fokus artikel di atas.
1. Kami menyebut tatacara karena ada beberapa kegiatan yang perlu/harus dilakukan sebelum/dalam melakukan sholat. Seperti: Wudhu, harus menghadap ke satu arah saja, mengucapkan doa-doa hafalan dalam bahasa tertentu, gerakan tubuh tidak boleh salah, dll. Nah, bagaimana bila tidak melakukan tatacara tersebut?
2. Sdr. Asep, Kitab sdr memberi tahukan bahwa Allah menciptakan manusia agar mengabdi kepada-Nya (Qs 51:56). Bukankah ini perintah untuk beribadah?
Lalu bagaimana menurut sdr bila kita beribadah namun di dalam hati menyimpan amarah, kebencian, iri hati terhadap sesamanya, apakah Allah menerimanya?
3. Kami belum mengerti maksud pernyatan sdr di atas. Kiranya sdr dapat menjelaskannya!
Terima kasih.
~
Daniar
1.jika menurut agama islam itu benar dan harus dilakukan, seperti pelaksanaan misa untuk agama kristiani
2.justru shalat adalah salah satu cara untuk menetralkan hati dari rasa2 yang sperti itu
3. Bentuk pahala adalah kebahagiaan, coba anda perhatikan lagi jawaban saya sebelumnya
*****
Sdr. Asep Sulaiman,
1) Pelaksanaan misa/kebaktian para pengikut Isa Al-Masih beraneka ragam. Ini bukan patokan diterima tidaknya ibadah umat oleh Allah. Sebab Allah yang Maha Tahu mengutamakan sikap hati setiap orang (Kitab Nabi 1 Samuel 16:7). Tentu berbeda dengan tatacara ibadah Muslim yang diwajibkan seragam, bukan? Maka pertanyaannya, bagaimana jika tidak melakukannya, apakah Allah tidak berkenan?
2) Jika demikian, cara tepat menilai benar tidaknya pendapat Anda adalah: bagaimana sikap hidup (pikiran, perasaan, perkataan, perbuatan) orang yang telah sholat? Adakah perubahan nyata sebelum dan sesudahnya? Perlu diingat, “perubahan” bersifat permanen, bukan sesaat. Bisakah Anda pastikan? Faktanya, para koruptor pun rajin sholat. Maka, bisakah sholat merubah hati seseorang?
3) Anda menulis: “Pahala = kebahagiaan. Orang yang sedang berbahagia mutlak tidak berdosa”. Bagaimana Anda memaknai “dosa”? Pernyataan Anda menyiratkan “dosa” tidak berhubungan dengan pihak lain termasuk Allah. Sehingga Anda menetapkan standard sendiri bahwa pahala dari amal manusia yang membuahkan kebahagiaan itu membuat orang suci dari dosa. Sungguh aneh! Bukankah dosa adalah ketidaktaatan kita kepada Allah? Maka bukankah seharusnya Allah (bukan kita) yang menetapkan kita sudah suci dari dosa atau belum? Apakah amal yang keluar dari hati yang berdosa bisa menukar pahala ampunan Allah yang mendatangkan kebahagiaan? Tidakkah ini meremehkan kesucian-Nya?
~
Yuli
~
Yuli,
1) Shalat pun sebetulnya bertujuan dasar menentramkan hati. Ketika sudah tentram, mustahil ada keinginan manusia untuk berbuat keji dan munkar. Karena ia sudah tentram. Kita pun bila dalam keadaan perut kenyang terasa indah. Apalagi hati yang tentram.
2) Jawaban ini sudah diwakili jawaban di atas.
3) Mbak Yuli, dari manakah datangnya kebahagiaan?
~
Sdr. Asep Sulaiman,
Sayang sekali, jawaban Anda tidak menyentuh inti pertanyaan-pertanyaan kami. Justru makin jauh dari pokok bahasan. Mari kembali pada pertanyaan kami sebelumnya:
1) Apakah Allah tidak berkenan menerima ibadah yang tidak sesuai dengan tatacara sholat umat Muslim?
2) Bukankah faktanya, sebagian besar koruptor malah rajin sholat? Jadi, benarkah sholat bisa mengubah hati menjadi bersih, tenteram, dan jauh dari hal yang jahat?
3) Bagaimana seseorang bisa mendapatkan pahala yang berbuahkan kebahagiaan sedangkan dosanya di hadapan Allah masih belum beres? Bagaimana seseorang bisa tenang, apalagi bahagia dengan keberdosaannya?
~
Yuli
~
1. Maaf Islam bukan sekedar ibadah jasmani saja melainkan juga hati(rohani). Siapa yang bilang Islam menitik beratkan ritual jasmani saja. Islam lebih menitik beratkan rohani malah lebih dalam sangat dalam.
2. Tidak dan memang tidak diperkenankan. Dalam Islam pun siapa yang punya penyakit hati (iri, dendam, amarah dll) setinggi apapun ibadahnya tidak diperkenankan, malah ibadahnya dicampakkan kemukanya.
3. Tidak setuju, pahala tidak kuasa akan membersihkan dosa. Yang kuasa membersihkan dosa ya Allah swt dengan rahmatnya, ampunannya serta kasih sayangnya. Inilah ajaran Islam sebenarnya, bukan sekedar jasmani tapi ada juga rohaninya.
~
Saudara Islam Kaffah,
Terimakasih telah menanggapi pertanyaan fokus di atas.
1. Kami sependapat dengan saudara, untuk beribadah kepada Allah bukan hanya secara fisik, tetapi yang terpenting adalah persiapan hati. Jadi beribadah menitik beratkan rohani itu yang bagaimana, bisa dijelaskan?
2. Kami juga sependapat dengan saudara. Karena Allah melihat hati. Tapi bukankah manusia makhluk yang rentan terhadap dosa (iri, dendam, amarah, dll)? Lalu bagaimana menurut saudara agar ibadahnya berkenan pada Allah?
3. Kami juga sependapat dengan saudara bahwa pahala tidak kuasa membersihkan dosa. Hanya rahmat Allah saja kita dapat dibersihkan dari dosa. Menurut saudara rahmat Allah yang bagaimana yang dapat membersihkan kita dari dosa?
Sekali lagi terimakasih untuk tanggapannya, dan kami tunggu penjelasan saudara selanjutnya!
~
Daniar
~
Jelas situs ini adalah situs yang mengarahkan kepada Nasrani. Setiap pembahasan selalu diakhiri kata-kata “mengimani Isa Al-Masih”.
~
Saudara Abu,
Terima kasih sudah mengunjungi situs kami. Situs kami menyajikan tentang siapa Isa Al-Masih yang sesungguhnya. Banyak orang yang tidak mengenak dengan benar tentang Isa Al-Masih.
Isa Al-Masih adalah Kalimatullah yang nuzul ke dunia mengambil rupa manusia. Karena kasih-Nya yang begitu besar pada manusia sehingga Dia memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang (Injil, Rasul Besar Matius 20:28).
Apakah saudara sudah mendapatkan hidup baru dalam Isa Al-Masih?
~
Salma