“Bismillahirrahmanirrahim” adalah kalimat pembuka dalam Al-Quran. Yang berarti dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Syekh Muhsin Qira’ati dalam tafsirnya mengatakan bahwa dalam kalimat ini terkandung harapan. Yaitu agar Allah mengingat dan jangan mengabaikan kita.
Tentu kita sebagai manusia membutuhkan rahmat-Nya. Kita tidak mau menjadi orang yang diabaikan Allah. Sebagai seorang Muslimah inilah kerinduan saya.
Namun dalam kenyataannya hidup kita menghadapi masalah dan tantangan. Kita sering berdoa dan belum mendapatkan solusinya.
Juga kita penuh dengan khilaf dan dosa. Kita sering tidak yakin apakah kita dikasihi-Nya atau justru menjadi orang yang diabaikan Allah.
Bagaimana cara kita bisa pasti mendapatkan perhatian-Nya dan rahmat-Nya? Mari kita simak apa yang saya temukan.
Yakinkah Kita Bukan Orang yang Diabaikan Allah?
Saya sangat rajin beribadah dan beramal. Alasannya karena saya takut menjadi orang yang diabaikan Allah. Saya juga takut hukuman-Nya.
Namun dalam hidup, saya penuh keraguan. Saya merasa tidak pernah mendapat kepastian akan rahmat Allah. Saya juga sadar saya sering berbuat banyak dosa.
Saya pernah bertanya kepada ulama mengenai hal ini. Beliau berusaha meyakinkan saya dengan dalil dari Al-Quran.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (Qs 50:16).

Awalnya saya sangat senang menerima penjelasan ini. Saya merasa mendapat jawaban.
Namun saat sendiri, saya membaca seluruh konteks ayatnya. Hal ini membuat saya khawatir karena ayatnya berisi ancaman. Allah yang dekat selalu memperhatikan semua perbuatan kita.
“(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya . . . tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir . . . dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman” (Qs 50:17-20).
Selama hidup saya membuat banyak dosa. Saya menjadi lebih takut hukuman Allah.
Membuka Hati untuk Belajar
Inilah yang menjadi awal saya rajin membaca Al-Quran dan Hadist. Saya mau mendapat keyakinan rahmat Allah.
Namun setelah masa pencarian yang lama, saya belum menemukannya. Sebaliknya saya malah makin banyak menemukan dalil ancaman dan hukuman Allah.
Hal inilah yang membuat saya gelisah karena saya sadar tidak akan mampu memenuhi semua peraturan-Nya.
Jika demikian saya pasti akan menjadi orang yang diabaikan Allah. Saya pasti akan mendapat hukuman dan tidak mungkin mencapai surga.
Dalam kegelisahan ini saya meminjam Alkitab dari seorang teman. Saya ingin mengetahui adakah petunjuk rahmat-Nya dalam Kitab Injil.
Diabaikan Allah atau Dikasihi Allah
Setelah proses yang cukup lama akhirnya saya menemukan banyak hal. Saya sangat terkejut dengan semua informasi yang saya dapatkan.
Berikut ini beberapa temuan saya.
- Apakah Allah menyesatkan manusia atau mau menyelamatkannya?
Salah satu sifat Allah adalah Yang Menyesatkan. Sebagian manusia mendapatkan petunjuk Allah. Namun sebagian lain disesatkan-Nya.
“. . . demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya . . .” (Qs. 74:31).
Namun saya menemukan hal menarik dalam Kitab Injil bahwa Allah justru ingin berinisiatif menyelamatkan semua manusia.
“Karena Anak Manusia [Isa Al-Masih] datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Injil, Lukas 19:10).
- Apakah Allah mengabaikan orang berdosa atau mengasihi seluruh umat manusia?
Agama saya mengajarkan Allah menyukai orang yang taqwa. Namun Ia mengabaikan orang yang tidak taat.
“Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’” (Qs 3:32).
Kitab Injil mengajarkan bahwa Allah ingin semua orang selamat. Karena itu Ia yang ingin menyelamatkan orang berdosa.
“Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia menganugerahkan Sang Anak yang tunggal itu [Isa Al-Masih] supaya setiap orang yang percaya kepada Sang Anak tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal” (Injil, Yahya 3:16).
- Apakah Allah mengabaikan atau meninggikan wanita?
Salah satu tekanan saya sebagai wanita adalah ada banyak peraturan agama tentang wanita. Semua ini saya rasakan membatasi kehidupan saya.
Misalnya wanita harus berpakaian tertutup. Haid adalah kotoran sehingga membatasi ibadah.
Juga istri harus tunduk pada suami. Sehingga jika suami tidak mengizinkan, maka aktifitas istri sangat terbatas. Ada banyak wanita yang tidak bisa kuliah, kerja dan bahkan hanya sekadar pergi pada malam hari tanpa izin suami.
Puncaknya saya membaca Hadist yang sangat tegas. Hal ini membuat saya sedih.
“Kalau ada kesialan pada sesuatu, maka ada pada wanita, kuda dan tempat tinggal” (Hadits Bukhari No.2647).
Namun saya menemukan penghargaan terhadap wanita dalam Injil. Ada ayat yang menguatkan saya.
“. . . di dalam Tuhan tidak ada laki-laki tanpa perempuan dan tidak ada perempuan tanpa laki-laki . . . semuanya dari Allah juga asalnya” (Injil, 1 Korintus 11:11-12).
Puncak Kasih Allah
Selanjutnya saya mendapati pernyataan kasih Allah yang tertinggi. Hal ini menjadi bukti dan jaminan kuat bahwa kita tidak akan menjadi orang yang diabaikan Allah.
Puncaknya adalah saat Allah menjelma menjadi manusia. Inilah Isa Al-Masih.
Tujuannya adalah agar Allah menunjukkan jalan lurus kepada manusia dan menyelamatkannya dari hukuman dosa. Cara Allah melakukan hal ini dengan menggantikannya pada kayu salib. Allah melalui Isa Al-Masih menanggung hukuman dari dosa manusia.
“Di dalam Al-Masih, kita memperoleh tebusan . . . yaitu pengampunan atas pelanggaran-pelanggaran kita, sesuai dengan kekayaan anugerah-Nya” (Injil, Efesus 1:7).
Melalui hal ini kita bisa memperoleh selamat, mendapatkan ampunan dosa, dan mendapatkan kepastian surga. Bagian kita sebagai manusia adalah mau meresponi pertolongan Allah ini dengan mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Sebuah Keputusan Penting: Memilih Jalan Rahmat-Nya
Semua hal ini yang menarik perhatian saya. Saya sempat mendiskusikannya juga dengan berbagai teman. Mereka semua juga terkejut dengan temuan ini.
Sampai ada satu teman yang berpendapat. Ia berkata: “Bagaimana hati kita tidak tersentuh melihat semua ini? Saya merasa mendapatkan kasih dan rahmat Allah dalam ajaran Isa.”

Saya mau menerima rahmat Allah melalui Isa Al-Masih. Saya mendapat keyakinan tidak akan menjadi orang yang diabaikan Allah dalam ajaran Isa.
Mengimani Isa: Kita Pasti Tidak Diabaikan Allah
Selanjutnya saya belajar kepada pengikut Isa agar saya bisa teguh untuk mengimani dan menjadi pengikut Isa Al-Masih.
Saya mendapat keyakinan bahwa Allah akan mengampuni dosa. Ia juga akan menuntun kita sampai pasti masuk surga.
Hal ini tersedia untuk setiap manusia. Termasuk untuk Anda, para pembaca.
Maukah Anda mendapat kepastian rahmat Allah? Anda pasti tidak akan diabaikan-Nya. Mari mengimani Isa Al-Masih.
Artikel Terkait
Berikut ini link-link yang berhubungan dengan artikel di atas. Jika Anda berminat, silakan klik pada link-link berikut:
- Cara Mendapatkan Rahmat Allah yang Mengalahkan Murka-Nya
- Ke Surga, Mengapa Tidak Cukup Menjadi Kekasih Allah?
- Kisah Rabiatul Adawiyah: Cara Muslimah Mendapatkan Kasih Allah Sejati!
Video:
Fokus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca
Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:
- Apakah Anda pernah merasakan bahwa Allah melupakan Anda? Mengapa?
- Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Allah tak pernah mengabaikan kita?
- Apa yang Allah kehendaki agar kita berkenan kepada-Nya?
Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.
Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.Atau SMS ke: 0812-9530-4930

Namun saya menemukan hal menarik dalam Kitab Injil bahwa Allah justru ingin berinisiatif menyelamatkan semua manusia.
*****
jawaban:
1. Seandainya Allah melupakan manusia, maka tidak ada satupun Kitab yang diturunkan ke dunia.
2. Dengan mensyukuri nikmat-Nya. Bernafas yang kita rasakan setiap detiknya.
3. Sungguh Allah tidak membutuhkan bantuan seorang makhlukpun. Kitalah yang butuh kepada Allah SWT.
*****
Sdr. Penyembah Allah,
Terimakasih sudah berusaha untuk menjawab tiga pertanyaan yang kami sampaikan.
Kami setuju dengan sdr bahwa Allah tidak membutuhkan bantuan dari makhluk-Nya. Karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Berkuasa. Dia dapat melakukan apa saja yang Dia kehendaki.
Namun Allah juga ingin agar kita umat-Nya hidup berkenan kepada-Nya, bukan? Nah, menurut Sdr. Penyembah Allah, apa yang Allah kehendaki agar kita berkenan kepada-Nya?
~
Saodah
~
Jawablah dulu pertanyaan: Apakah Yesus turun membawa, mengenai dan mengabarkan Alkitab? Mana buktinya? Kalau Yesus sendiri tidak mengabarkan Alkitab, mengapa kalian mengabarkan Alkitab? Katanya kalian pengikut Yesus?
~
Saudara Netral,
Kiranya dalam memberi komentar sdr dapat memperhatikan ketentuan yang ada. Dimana salah satunya adalah “komentar harus berhubungan dengan topik artikel yang sedang dibahas.”
Jadi kami sarankan, kiranya komentar yang sdr berikan hanya menanggapi artikel di atas. Atau setidaknya menjawab tiga pertanyaan yang sudah disediakan.
Sedangkan untuk pertanyaan sdr di atas, silakan melihat jawabannya di artikel ini: http://tinyurl.com/c4phapd.
~
Saodah
~
Agar diskusi kita fokus dan tidak melebar ke hal-hal lain, kiranya komentar yang diberikan tidak keluar dari topik artikel yang sedang dibahas. Atau setidaknya hanya menanggapi tiga pertanyaan berikut ini:
1. Apakah Anda pernah merasakan bahwa Allah melupakan Anda? Mengapa?
2. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Allah tidak melupakan kita?
3. Apa yang Allah kehendaki agar kita berkenan kepada-Nya?
Demikian kiranya maklum, dan dapat memperhatikannya. Terimakasih!
~
Saodah
~
Staf IDI,
Jawaban pertanyaa no: 2 Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Allah tidak melupakan kita?
Sebagai makhluk yang beriman, dengan sifat-sifat Allah “Ar-Rahman dan Ar-Rahim” Allah itu mengasihi kepada semua makhluk-Nya tiada terkecuali dan menyayangngi khusus kepada umat Muslim.
Makanya setiap Muslim apabila akan melakukan suatu perbuatan yang baik, dianjurkan dengan membaca Bismillahirrahm anirrahim.
~
Saudara Komentar, terimakasih sudah berusaha menjawab salah satu pertanyaan yang kami berikan.
Kami setuju dengan sdr bahwa Allah itu Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Artinya, Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dan kami juga setuju dengan sdr bahwa Allah mengasihi semua makhluk-Nya.
Kami sedikit tergelitik dengan kalimat sdr berikutnya yang berkata bahwa “Allah lebih khusus menyayangi umat Muslim.” Benarkah demikian?
Muslim adalah sebutan bagi orang-orang yang beragama Islam. Agama Islam ada di dunia kira-kira 600 tahun setelah Isa Al-Masih naik ke sorga. Muhammad adalah nabi yang dipercaya umat Muslim sebagai pembawa agama Islam.
Pertanyaan saya untuk Sdr. Komentar, bila memang benar Allah lebih menyayangi umat Muslim, mengapa Al-Quran menyebut bahwa Isa Al-Masih adalah Pribadi terkemuka di dunia dan di akhirat? Mengapa gelar tersebut tidak ditujukan kepada Muhammad, yang notabe adalah pembawa agama yang dikasihi Allah tadi?
~
Saodah
~
Isa adalah nabi. Semua nabi adalah Muslim. Isa diutus untuk Israel agar hidup sebagai Muslim.
~
Saudara Xucinxgaronx,
Memang benar bahwa Isa adalah nabi, tetapi Ia juga adalah Tuhan. Semua nabi berdosa tetapi Ia tidak pernah berbuat dosa. Isa suci dan sempurna (Qs 19:17,19). Ia disebut Kalimatulloh, terkemuka di dunia dan di akhirat (Qs 3:45). Ia tahu hari kiamat (Qs 43:61) dan menjadi hakim yang adil (HSM 127, HSB 1090). Semua nabi memohon keselamatan tetapi Isa Al-Masih menyediakan keselamatan (Injil, Rasul Besar Yohanes 10:28).
Isa adalah juruselamat untuk semua bangsa (Injil, Lukas 2:10-11). Sebelum naik ke sorga, Isa bersabda: “…Pergilah jadikanlah semua bangsa muridKU…” (Injil, Rasul Besar Matius 28:19). Untuk lebih jelasnya silahkan klik artikel kami: http://tinyurl.com/cqvgxdo.
Isa bukan Muslim dan bukan pendiri agama tertentu. Sebab tidak ada satu ayatpun baik Alkitab dan Al-Quran mengatakannya.
~
Endang
~
Mari kita mencoba berlogika. Kristen dan Islam adalah sejarah peradaban Yahudi. Bagaimana nasib umat di luar sejarah Yahudi? Hindu, Buddha, Shinto, Konghucu dll. Bagaimana nasib mereka yang tidak terjamah pengetahuan agama? Suku primitif, animisme, dinamisme dll.
Apakah Tuhan melupakan mereka? Apakah mereka semua tidak bisa masuk surga? Adakah ajaran agama yang menjelaskan keberadaan dan nasib mereka?
Tuhan maha adil, maka hanya Tuhan yang bisa menentukan nasib mereka bagaimana, manusia tidak berhak menentukan nasibnya sendiri di akherat.
Manusia hanya bisa berserah diri pada Tuhan, dan melakukan kebajikan di jalan Tuhan. Ilmu agama mana yang paling mendekati dan punya logika tertinggi konsep keTuhanan ini? Bisa disimpulkan sendiri.
~
Sdr. Universe,
Tentu Tuhan mengasihi semua umat-Nya. Tuhan tidak pernah membenci umat-Nya sekalipun masing-masing umat tersebut memeluk agama yang berbeda-beda. Karena Tuhan tidak pernah meninggikan satu agama di atas agama yang lain.
Artinya, Tuhan tidak pernah berkata “jika kamu memeluk di luar agama ‘A’ maka kamu akan aku binasakan!”
Itulah sebabnya dalam Injil Isa berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. . .” (Injil, Rasul Besar Matius 28:19).
Isa adalah satu-satunya ‘Jalan’ menuju hidup kekal yang sudah disediakan Allah. Dan Isa rindu agar setiap orang dapat menerima hidup kekal tersebut. Caranya, dengan menerima ‘Jalan’ tersebut yaitu Isa Al-Masih!
Sayangnya, tidak semua orang mau menerima Kabar Baik yang sudah tertulis dalam Kitab Suci Injil. Termasuk mereka yang sudah mendengarnya. Mereka justru memilih menolak Kabar Baik tersebut.
Jadi menurut kami, Tuhan tidak pernah melupakan atau membinasakan umat-Nya. Umat itu sendirilah yang memilih untuk binasa dengan cara menolak Anugerah yang sudah diberikan Tuhan!
~
Saodah
~
Salam,
Banyak jalan menuju surga, Tuhan tidak diskriminatif. Selama jalan itu adalah kebaikan dan dijalan Tuhan.
Meski Anda mengimani dan menerima Isa Al-Masih sebagai juruselamat, jika Anda banyak berkelakuan buruk (di jalan iblis) tanpa mau bertobat, Tuhan juga pasti mempertimbangkanAanda untuk masuk neraka juga, Tuhan maha Adil. Mau dicuci dosa-dosanya di neraka dulu lalu masuk surga atau kekal di nerakapun itu adalah hak Tuhan untuk menentukan.
Kesimpulannya Anda tidak berhak menentukan keselamatan umat manusia.
Secara konsep keselamatan saya akui Al-Quran lebih baik, adil dan logis daripada konsep keselamatan Anda. Bagaimana saudara?
~
Sdr. Universe,
Sayangnya, sejak zaman Adam hingga zaman Isa Al-Masih, hanya ada satu jalan menuju sorga. Yaitu melalui Kalimattullah yang datang ke dunia dalam wujud manusia. Yaitu Isa Al-Masih. Hanya Al-Quran yang menawarkan jalan yang berbeda.
Juga, seperti yang selalu kami katakan, hanya Isa Al-Masih yang dengan tegas mengatakan bahwa Dia adalah satu-satunya jalan menuju Bapa (sorga). Pernahkah nabi sdr berkata bahwa dia adalah jalan menuju sorga?
Jadi, bila ada yang sudah pasti, mengapa harus mengeraskan hati dan menolak ‘Jalan’ yang benar itu?
~
Saodah
~
Sepertinya ada yang salah paham dan menangkap potret kehidupan Bani Israel pada masa Nabi Isa dan sampai sekarang.
Dari banyak ucapan Nabi Isa saya mendapatkan gambaran bahwa Bani Israil suka melaksanakan kebaikan yang satu. Namun meninggalkan perintah yang utama. Misalkan Matius 23, dikatakan ulama Taurat mengerjakan zakat (persepuluhan) namun meninggalkan pesan utama agama yakni keadilan, kasih sayang dan kesetiaan terhadap sesama. Situasinya mirip dengan umat Islam saat ini.
Itulah mengapa Allah mengutus Nabi Isa pada saat itu dan sekali lagi. Karena Hukum Allah telah musnah dari muka bumi. Yakni biba sebagai asa peradaban modern, merupakan pelanggaran atas keadilan dan kasih sayang terhadap umat manusia.
~
Sdr. Wong Prakosa,
Terimakasih untuk analisanya.
Bicara soal tujuan Isa datang ke dunia, bila sdr membaca dalam Alkitab, maka benang merahnya sudah sangat jelas sekali. Sejak dari zaman para nabi hingga kedatangan Isa, semua berbicara tentang satu hal mengenai kedatangan Isa. Yaitu menyediakan “jalan” agar manusia yang sudah terpisah dari Allah karena dosa, dapat kembali kepada Allah.
Itulah sebabnya ketika Isa di dunia, Isa berkata “Akulah jalan!” Di akhir zaman, Isa akan datang untuk yang kedua-kalinya. Tujuannya pun sudah sangat jelas. Yaitu menjadi Hakim, yang akan menghakimi semua manusia.
Dengan penjelasan di atas kami berharap Sdr. Wong dapat mengerti. Bahwa tugas dan tanggung-jawab Isa tidak terbatas hanya bagi bangsa Israel saja. Tetapi seluruh manusia, termasuk sdr dan saya.
~
Saodah
~
Staff I&A
1. Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada seluruh jagat raya beserta isinya tidak melihat Islam, Kristen, Budha, Hindu dll. Dia tidak melupakan kita, tidak melupakan saya. Allah selalu memberi rizki, mengingatkan saya kalau saya salah dan meningkatkan derajat saya dan manusia lainnya.
2. Allah selalu mengingatkan saya kalau saya melakukan kesalahan,
3. Allah menghendaki agar kita berbuat baik pada sesama manusia dan mentaati perintah-Nya
*****
Saudara Malikul Kudus,
Terima kasih telah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami di atas.
Sungguh luar biasa bukan Allah! Menurut Sdr. Malikul Allah tidak pernah melupakannya. Allah selalu memelihara hidupnya, mengingatkan bila salah. Dan Allah ingin agar kita berbuat baik pada sesama dan menaati perintah-Nya.
Dan lebih dari semua itu Allah ingin agar kita tidak mengalami kebinasaan kekal. “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (Injil Surat 2 Petrus 9)
~
Daniar
~
Xucinxgaronx,
Bagaimana mungkin anda mengatakan semua nabi adalah Muslim, termasuk Isa Al-Masih, sedangkan agama Muslim lahir 600 tahun setelah Isa Al-Masih naik ke surga. Sampaikanlah pendapat anda di kolom ini dengan fakta dan sejarah yang akurat. Tidak ada yang diturunkan oleh Tuhan tanpa dinubuatkan oleh nabi sebelumnya. Dan tidak ada nabi yang diturunkan Tuhan di muka bumi ini di luar dari bangsa Israel.
~
Saudara Hikmat,
Terima kasih telah memberi komentar dengan menanggapi komentar Sdr Xucinxgaronx. Kami sependapat dengan saudara untuk berdiskusi sebaiknya disertai data yang akurat. Sehingga apa yang kita sampaikan bukan hanya asumsi kita saja. Tapi tidak tepat bila ingin mendiskusikan hal itu di sini. Karena di kolom ini fokus kita adalah tentang kasih Allah. Meskipun kita berdosa tapi Allah tidak melupakan kita!
Apakah saudara setuju bahwa Allah tidak melupakan saudara?
~
Daniar
~
Tebang pilih ayat Al-Quran diluar konteks dan jelas bertujuan misinformasi dan disinformasi.
~
Saudara Didi,
Kami menghargai pendapat saudara. Kami mencoba mencantumkan ayat Al-Quran sesuai yang tercantum di dalamnya.
Kami tidak melakukan tebang pilih di luar konteks. Sebab kami telah membaca ayat-ayat itu secara menyeluruh. Jika saudara menganggap itu tebang pilih, maka bagian mana yang tebang pilih?
Jika kita membaca artikel di atas, maka kita menemukan konsistensi Allah yang maha pengasih dan penyayang dengan tindakan-Nya. Ini dibuktikan Isa Al-Masih. Sebab Isa Al-Masih telah merelakan diri-Nya mati di kayu salib untuk menolong manusia diterima Allah. Bagaimana menurut saudara?
~
Salma